This is default featured slide 1 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 2 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 5 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

meaning

maksudmu...
menghibur hati yang gundah
memberi makan yang kelaparan
memberi harapan yang berputus asa
membantu keluar dari kesulitan

kemana-mana...
kau tawakan gelakmu
mana bisa...
mareka tak butuhkan itu...<

Ada Apa

apa lagi ini
menyodor-nyodorkan pahala
tapi tetap saja tertolak
kesana kemari memberi amal
semua tertolak
tidakkah pahala jadi kebutuhan
tidakkah amal menjadi keharusan

apa lagi ini
semuanya jadi tak sama
kala semua haus akan pahala dan amal
adakah semuanya telah memilikinya

senyummu kutolak
infaq sadaqahmu tak kubutuhkan
zakatmu tak lagi bernilai
lalu kemana engkau akan menyerahkannya
sementara mereka juga
tak membutuhkannya

Astagfirullah

Meski Ramadhan menjadi anjuran menyambutnya dengan gembira, tapi kulihat dia masih saja meringis perih. Entahlah...! Mungkin saja dia tak memahami jika kegembiraan yang disemat untuk menyambut Ramadhan mendatangkan pahala bagi dirinya. Tapi mungkin saja dia tidak lagi memiliki alasan tepat mengapa Ramadhan perlu disambut gembira. Ataukah mungkin sesuatu datang pada dirinya yang sungguh kepedihan yang dirasakannya mampu mengalahkan rasa gembiranya kala Ramadhan tiba. Tak ada yang mengetahuinya selain dirinya bersama dengan Tuhannya.


Kini Ramadhan telah berlalu melewati separuh waktu. Tapi hari ini masih kulihat dia tetap meringis. Tetap tidak menampakkan betapa gembiranya dirinya dianugrahi oleh Allah swt bulan ramadhan. Baginya menambah pahala yang berlipat ganda, beramal, berpuasa, bertaraweh, sholat malam dijalaninya terlihat lebih sungguh-sungguh, tapi rasa gembira itu tetap tidak dinikmati dan ditampakkannya. Sedikit mengherankan... karena kesibukan orang bergembira menyambut ramadhan dan menjalaninya tak mempengaruhinya sedikitpun. Masih saja dia sibk mengurus dan membenahi perihnya.

Satu hari kudapati dirinya sedang meneteskan air mata satu persatu. Duduk tafakkur disudut masjid sendirian seakan menghitung berapa butir sudah air mata diteteskannya. Tak tahan melihatnya kuberanikan diri menghampirinya. Lalu dengan serta merta kududuk bersila didepannya sambil memegang kedua lututnya. Sedikitpun dia tidak merespon sentuhanku. Kepalanya tetap ditundukkannya sambil sekali-kali mengusap tetesan air mata yang jatuh di pangkuannya.

"Kenapa menangis wahai saudaraku" setengah berbisik aku menyapanya.

"Astagfirullah..." gumamnya setengah berbisik.

"Allahu Akbar......! Ada apa dengan engkau wahai saudaraku" kusambut kalimatnya sembari menyentuh pundaknya. Tiba-tiba rasa haru menyelimut tebal di hatiku. Tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya sambil menatap dalam padaku. Aku tiba-tiba bergidik, pandangan mata itu begitu tajam seakan menusuk bola mataku mencari sesuatu.

"Sejak Ramadhan aku selalu duduk disini... dan tak satupun orang yang berani menghampiriku, tak ada yang bertanya padaku.. hanya engkau saudaraku...." tiba-tiba dia mengucapkan kata-kata itu terbata-bata.

"Maaf jika aku mengganggumu..." sahutku kemudian.

Aku lalu mengemukakan padanya tentang semua keherananku pada tingkah lakunya, pada keperihan yang mungkin dialaminya, pada ketidak gembiraannya menyambut dan menjalani Ramadhan.

"Saudaraku.... janganlah sekali-kali kita naif, terlalu banyak orang yang menyambut ramadhan dengan kegembiraan, tapi kegembiraan pada apa... bukankah mereka bergembira dengan melakukan pesta pora kala berbuka puasa, bergembira dengan suara hiruk pikuk kala sahur tiba, bergembira kala mereka berbondong-bondong memenuhi masjid-, bergembira kala mendatangi mal-mal untuk persiapan lebaran, mereka bergembira melakukannya....aku tak kuasa untuk itu saudaraku" ucap dia begitu tenang. Hatiku tiba-tiba menjadi ciut mendengarnya

"Saudaraku...bukankah kegembiraan menyambut dan menjalani ramadhan itu tidak boleh menjadikan kita lupa pada hakikatnya... bukan pada yang tampak. Bisa jadi seseorang meneteskan air mata bukan karena tidak senang akan kedatangan bulan Ramadhan, demikian pula sebaliknya, bisa jadi orang yang tersenyum kala ramadhan tiba, bukan berarti dia telah sungguh-sungguh bergembira akan kedatangan bulan Ramadhan" katanya kemudian.

Belum sempat aku bertanya padanya, dia tiba-tiba meraih tanganku, kemudian menyalaminya sambil berdiri.

"Saudaraku.... jika saja engkau bergembira karena bulan Ramadhan, bagaimana engkau menampakkan kegembiraan itu?" katanya kemudian sambil berlalu dari hadapanku.

Aku hanya berdiri melongo memperhatikan dia pergi meninggalkan aku sendiri dalam kebingungan.

Hilang


sajak pertama kutulis
itu bukan punyaku
sajak itu untukmu
kutulis kata demi kata
kurangkai menjadi sebuah kalimat
kususun dengan larik-larik beraturan
menegaskan tema tentangmu
menjadikannya indah
dalam baitnya

sajak kedua kutulis
itu bukan punyaku,
juga bukan untukmu
itu punya kita berdua
kutulis menjadi satu bait
menegaskan tema tentang kita
menjadikannya syahdu
dalam sajaknya

sajak terakhir kutulis
itu bukan punya siapa-siapa
lariknyapun tak berwujud
temanyapun hilang
kata-katanya bisu
kalimatnya tumpang tindih
baitpun tak tercipta
menjadikannya hilang
tak berbentuk

Nafs

intuisi liar
mengais kebenaran nisbi
ah...jangan kira mampu
tanpa aqal mendominasi


instink melemah
menegaskan rasa
ah... jangan kira bisa
tanpa qalbu menghiasnya

nafs anggun
bersolek menebar pesona
ah...jangan kira kuasa
tanpa intuisi dan qalbu besertanya

uak@30 Agustus 2009 jam 21:06

KEmanaki

kemana mereka
yang menemani
kala aku tersenyum
merangkul asa
bersama

dimana kalian
yang bersamaku
saat kugerai tawa
menjemput cita

saat aku meringis
menahan lapar
saat meronta
dari pasungan
ahhh
mungkin kau tetap tersenyum dalam tawamu
yang kau rampas dariku

03 September 2009 jam 0:58

Hijab

hijab di duniamu
adakah nyata pada dimensi materi
menghalang indera penglihatan
hingga tak tembus pandang

hijab dalam pahammu
adakah nyata pada dunia abstrak
tak menjadi penghalang
hingga semuanya menjadi nyata


hijab bisa jadi bukan esensi
hijab bukan pula eksistensi
yang menisbahkan identitas
pada kemerdekaan diri

mengapa sekelompok orang
sibuk menisbatkan diri
hanya karena hijab yang terkoyak
karena dianggapnya sebuah penistaan

mengapa pula segelintir orang
menghormati karena eksistensi hijab
bukan pada esensinya
dan istiqamah menjaganya

hai anak manusia
mengapa hijab lalu menjadi dilema
padahal istimbathnya sangat nyata
tidak hanya pada hal abstrak
tapi juga pada hal nyata

lalu mengapa kita semua
menjustifikasi hijab
hanya sebagai pintu
yang akan dibuka pada masanya

03 September 2009 jam 23:57

Photo uak

belum diuji

kau begitu gagah
memakai pakaian kebesaranmu
berdiri tegap sekokoh baja
kau mengatakan "akulah yang terhebat"

kau begitu cantik
memakai gaun pengantin
berdiri anggun bagai bidadari
kau mengatakan "akulah yang paling sempurna"

mengapa mengatakannya
padahal belumlah engkau
diuji

Share
Sunday, June 21, 2009 at 8:42pm

Cukup untukmu saja

kau bilang semuanya nyata
tapi aku tak dapat menyentuhnya
kau bilang semuanya akan tiba masanya
tapi aku tak tau waktunya

kau minta aku menunggu
tapi engkau tak pernah datang
kau minta aku bersabar
tapi engkau tak mengirim kabar

suatu waktu kau mencintaiku
tapi aku tak merasakannya
suatu waktu kau rindu
tapi aku tak pernah menikmatinya

hari ini kau bilang sedih
tapi aku melihatmu tertawa terbahak-bahak
hari ini kau bilang sendiri
tapi aku melihatmu bersamanya

kemarin katanya ingin mencobanya kembali
tapi kau tak pernah memulainya
kemarin katanya ingin bersamaku
tapi kau tak pernah beranjak dari tempatmu

besok
kau pasti punya keinginan
tapi aku mungkin tak lagi disini
jika kau lakukan sesuatu
cukuplah untukmu saja
jika kubutuhkan
suatu saat ku memintanya


Monday, June 15, 2009 at 9:20pm

Saat itu

engkau datang
seperti air
membasahi padang hati yang gersang
seperti cahaya
menyinari gelapnya nurani
seperti angin sepoi
menyejukkan hati yang gerah
engkau pun kini pergi
tidaklah sama
saat engkau datang