This is default featured slide 1 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 2 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 5 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

Maklumat Penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal

Pimpinan Pusat Muhammadiyah tertanggal 27 Juni 2011, telah mengeluarkan maklumat nomor 375/MLM/I.0/E/2011 mengenai Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah, 1432 Hijriyah Serta Himbauan Menyambut Ramadhan 1432 Hijriyah.
Sumber: Berikut maklumat PP Muhammadiyah.

Riska Penariku

Riska....
tetaplah bergoyang dengan liukan aduhai
biarkan aku mabuk hingga lupa akal kusisipkan dimana
biarkan aku terpesona hingga nurani terbang entah kemana...


Riska....
Tahukah kamu jika tak terasa badan ikut bergoyang
beriringan dengan hentakan kakimu
Tanah yang kupijak bergetar hebat

Riska...
Aku menggelepar tak berdaya
tempat aku berpijak bergoyang
hingga badan turut bergetar

Riska...
Jangan berhenti
biarkan mataku tetap melotot
menikmati malam ini bersamamu

Saat menikmati gemuruh malam di dg Te'ne

Kesadaran Pemabuk

sadar ataukah mabuk
tak mahfum lisan sendiri
budi pekerti tak bernilai
raga turut tanpa berkah

berulang pada gerakan sama
merendahkan raga pada penguasa
tersesat pada tabiat sendiri
keringat terkucur percuma


ucapan tak berarti
tabiat tak punya hasil
waktu tergerai percuma
karena ihlas tak besertanya

Seperti tak Ber-Tuhan


tertawa terpingkal-pingkal
laksana kaki tak menjejak bumi

tangisan meraung
seperti rongga dada tanpa qalbu

adalah saksi pada gemetarnya tubuh
saat kusangka engkau tak ber-Tuhan

by. uak with nina

Enggan

Tak ingin sekalipun
memasung jiwa
menyalib raga
 
karena engkau 
bukan Tuhan-ku
Tuhanku saja Tak menginginkannya

Lalu siapa Tuhanmu???

Seberapa Jauh

adakah pengetahuanku tentang jalan ini
seberapa jauh sudah kulalui
seperdua, atau sepetiga
atau aku belum beranjak sama sekali

kulihat banyak sudah didepanku
tapi benarkah yang kulihat itu lebih jauh dariku
atau mereka yang kusangka jauh justru baru memulainya
atau bahkan aku bersama dan beriringan

Allahu Akbar.. 
Sungguh menjadi rahasia bagiku
Tentang perjalan hidup yang kulalui
seberapa jauh dan seberapa dekat


Bagaimana Mengatasi Kelambatan Computer

Setiap orang pasti pernah merasakan jika tiba-tiba komputer kita menjadi lambat (Lalo=lambat loading hehehhe). Sebenarnya bukan semata-mata dipengaruhi oleh faktor usia dari komputer kita, tetapi juga karena beberapa hal di antaranya adalah data komputer kita semakin membengkak, meskipun data tersebut sesungguhnya sudah tidak dibutuhkan lagi. Hal ini terjadi pada saat kita menginstal komputer kita dengan aplikasi atau program baru.

Pada saat ada aplikasi aplikasi baru diinstal secara otomatis akan menambahkan file baru dan entri registry yang membuat kacau. Bahkan lebih buruk lagi: banyak file, driver, link dan entri registri tidak terbuang meskipun program tertentu sudah di uninstall. Untuk membersihkannya daapt menggunakan Ashampoo MagicalUninstall untuk membersihkan semua file-file setelah proses uninstall di komputer anda.

Optimizer PC

Sejak on-line menjadi barang murah (tidak mahal biaya on line) maka semua orang dapat memiliki dan mengakses Internet untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan informasi, apalagi dengan kehadiran berbagai macam jaringan sosial, seperti Facebook, MIM, Twitter.

Fakta membuktikan bahwa seiring dengan keberadaan hal tersebut, menjadikan perangkat Computer menjadi berantakan dengan file internet yang tidak perlu saat seseorang sedang melakukan aktifitasnya. Selain itu beberapa entri yang tidak perlu disuntikkan ke dalam sistem registry. hal ini jika dibiarkan akan berpengaruh pada kinerja komputer secara signifikan dan akan menyebabkan kerusakan pada sistem komputer.

Salah satu program yang dapat menyelamatkan komputer kita adalah dengan program Ashampoo Magical Optimizer yang dapat mengemblikan kinerja komputer seketika hanya dengan mengklik komputer dapat diperbaiki. Selamat mencoba.

Ingin Menjadi Raja

berpuluh-puluh hari kuhitung
habis sudah batang lidi
hingga menemukanmu lagi
dipelataran altar berwarna jingga

binar mata tak sedikitpun beda
saat menelisik jantungku
berdegup kencang tak kukendalikan
hingga tangan berjabat erat

kunalar lagi inginku
bersanding ditahta kebesaran
duduk sebagai raja
disamping permaisuri nan cantik

Bersama Penyair Beruban di Dg. Te'ne Kala itu...!!!

tak pernah diam
mengalir saja seperti air
tidak menetes tidak juga tumpah
tapi tak pernah henti

menikmatinya seperti minum
setetes saja sudah melegakan
dua teguk sudah hilang ingatan
tak ingin berhenti menikmatinya

sungguh sakti kalimatmu
dahagakanlah sepuas-puasmu
kuyakin masih ada syair tersimpan
menghilangkan kering kerongkongan

Angkuhnya Engkau Hari Ini

angkuhnya engkau hari ini
ingatan tentangku kau sembunyikan
pikiranmu berbelok dariku
melupakanku menurutmu

sekali lagi angkuhmu hari ini
mencipta khilaf diingatan dan pikirmu
tapi sejarah hidupmu tak jauh dariku
disana ada aku dalam kisah-kisahmu

sanggupkah sejarah kau hapus
menghilangkan masa lalu dari ingatan dan pikirmu
adakan masa depan tanpa sejarahmu
yang tercipta bersama dimasa lalu

by Uak Sena on Friday, October 23, 2009 at 12:02pm

Tentangmu

tetap saja begini
raut wajah tak sirna
menggambar dipelupuk mata
meski berbingkai luka

nalar terjungkal nurani
logika terlibas nafsu

desahan mendesir di telinga

raga terlelap, tenang berselimut sunyi
menghampar maya, tentangmu di sanubari

Rindu Tak Usai

lupakan aku sejenak
biarkan nuranimu 
bersimbah rindu

beri waktu sesaat
kugambar wajahmu
berhias asmara

jangan datang sekarang
belum rampung kisah asmara
aku denganmu

Kekalahan

tak cukup indahkah rayuanku
hingga engkau menderetkan senyum tak rapi untukku
mencakar-cakar hati hingga berdarah-darah

tak sempurnakah belaian tanganku
membuat tubuhmu meronta-ronta
hingga mendorong tubuhku hingga menjauh darimu

tak jugakah sadar
tiupan nafas cintaku
hampir mengalahkan sangkala
yang belum ku tiupkan untukmu.....

Kepergianmu

jendela menguak lebar tak kau hirau
memilih pintu yang terbuka separuh
memaksa badanmu ringkih melewatinya

"engkau deretkan senyum manis beserta bulir-bulir air mata"

meleleh luluh lantakkan garang hati
melihatmu membariskan punggung tepat di kedua bola mataku
yang nanar menatapmu hilang

Hikmah Dibalik Kematian

Hari ini kawan, dengarlah sedikit kisahku. Saat aku duduk memaksa akal untuk menalar semua yang ada disekitarku. Ada bahagian yang terlupakan yaitu Kematian. Sementara kematian itu menjadi Sunnatullah, pasti akan terjadi. Tak ada seorangpun yang mampu menolak kematian itu. Segala sesuatu yang bernama makhluk hidup pasti akan mengalami kematian. Tanaman yang dulunya tumbuh dari kecambah menjadi pohon yang tinggi menjulang dengan daun lebat serta batang  yang kokoh yang ditopang oleh akar yang menjalar, pada masanya akan mengalami kematian. Kematiannnyapun berproses dari ggurnya daun, terkelupasnya kulit batang, dahannya jatuh satu persatu beserta rantingnya, lalu batangnya keropos serta akarnyapun mengering.

Tentulah tidak salah jika disebutkan bahwa sesungguhnya nasihat yang paling baik itu adalah kematian (maut). Bahwa segala sesuatu memiliki siklus masing-masing denga model kurva terbalik. Berangkat dari nol dan berhenti pada titik nol. Dari Tiada-ada-kemudian menjadi tiada. Sebuah proses yang mutlak terjadi. Dan kematian itu juga selalu menunggu waktu yang tepat untuk datang menghampiri kita.

Pertanyaanya kemudian adalah "sudahkah kita siap menghadapi kematian itu. Pernahkan terpikir bahwa hidup kita, aktivitas kita sesungguhnya adalah sebuah proses yang dilakukan untuk menyiapkan kematian kita secara baik (Khusnul Khotimah). Pernahkan kita menghisab seluruh yang kita lakukan bahwa telah lebih dominan kegiatan kita untuk persiapan kematian atau masih diatasi oleh kepentingan kepentingan lain. Tak salah mungkin jika kukatan bahwa "hidupku adalah untuk mati". Dan hematku semua orang juga demikian. kita hidup untuk mati, bukan hidup untuk hidup lagi.

Seberapa banyak hikmah yang terkandung dari kematian itu, tentulah nalarku sekarang tak kuasa menjangkaunya. Allah telah menggariskan bahwa kematian adalah menjadi salah satu rahasia terbesar-Nya untuk makhluknya. akan tetapi dari fenomena kematian itu, analogi sederhana yang dapat kupikirkan adalah ketidak mampuanku membayangkan jika kematian itu tidak ada. Berapa banyak tumbuhan yang memenuhi alam ini jika tidak ada yang mati. Berapa banyak manusia yang menghuni bumi ini jika tidak mati. Berapa banyak binatang yang  berkeliaran dimana-mana jika tak mati.

Tentu bumi ini akan penuh sesak. Sungguh Maha Kuasa Allah yang dengan kekuasaan-Nya menciptakan kematian.
Allahu Akbar
Wallahu' 'a'lam bii sshowwab

Perjalan Hidup Kita Kawan...!!!

Perjalan ini sudah panjang sebenarnya. Jika diukur sepertinya sudah ribuan kilometer. Sudah terlalu banyak jalan yang kita lalui. beliku-liku, naik turun, jalan mulus dan jalanan berbatu. Telah banyak sudah daerah yang dilihat dan tentu menambah juga pengalaman yang luar biasa. Tanpa sadar telah pula terkumpul dalam long term memori kita berbagai pengetahuan biasa maupun pengetahuan ilmiah. Sejauh perjalanan ini, interaksi kita dengan diri sendiri dan dengan orang lain pun sudah sangat banyak dan beragam.

Jauh sudah bukan. Jika ini dituliskan dalam sebuah buku setebal 100 halaman, tentulah tidak akan cukup. Berbagai peristiwa yang terjadi selama perjalan itupun telah meninggalkan luka, sedih, bahagia, lapar, kenyang, gelak tawa, nyanyian, dan bahkan perbincangan yang kadang mengencangkan urat leher. Tapi Kawan...!!! ternyata kita dapat melaluinya. Tentulah dengan hikmah yang berbeda yang tersemat di dalam hati kita kawan.

Tentulah wajar jika kita mengumpulkan dalam bathin kita beberapa peristiwa yang terjadi. Cukuplah membagina menjadi dua kelompok besar yaitu seberapa panjang perjalana ini kita lalui dengan bahagia, dan seberapa panjang pula kita ciptakan kesediahan. Sekali-kali bukan bermaksud untuk mengungkit kebaikan-kebaikan itu untuk menjadikan kita merasa berbangga diri dan takabbur. Dan juga tidak sedikitpun niatan untuk mengungkit-ungkit kesalahan yang terjadi dengan maksud untuk mencipta dendam dan amarah. Akan tetapi Kawan.... semua itu sekedar untuk menilai dan memperbaiki semua kesalahan-kesalahan yang mungkin saja secara tidak sadar menitipkan duka dalam hati kita maisng-masing.

Teringat kalimat yang sering kudengung-dengunkan sendiri:
"Jangan sekali-kali belajar menerima kelebihan orang lain, tetapi belajarlah untuk menerima kekurangan-kekurangan orang lain. 
Itulah yang akan membuat kebersamaan kita lebih langgeng.Tidakkah kita sadar kawan..!!! jika ada hal yang membuat hati ini tiba-tiba ingin membencimu, seketika kulintaskan dalam ingatan tentang bagaimana engkau denan iklas telah membahagianku suatu waktu. Dan dengan serta merta rasa benci yang bisa saja muncul lalu tertutupi oleh kebaikanmu. Kawan, perlu kau ingat bahwa tak sekalipun aku memegang prinsip:
"karena nila setitik, rusak susu sebelanga"
Tak adillah diriku ini, jika karena ksatu kesalahan kecil lalu tiba-tiba aku melupakan semua kebaikan yang pernah engkau berikan padaku. Perlulah diingat pesan orang tua kita, bahwa sekiranya seseorang telah memberikanmu seteguk air dengan ihlas, maka jangan sekali-kali engkau melupakannya, karena budi baik orang lain tak akan pernah dapat dibalas.
Ingatlah peristiwa yang terjadi antara seekor Anjing kehausan yang sangat penurut kepada majikannya hanya karena disuguhi air yang diperoleh dengan menggunakan sepatu dari majikannya. Sungguh Anjing itu sekalipun pada waktu-waktu tertentu majikannya melempari anjing itu, memukulnya, akan tetapi tetap saja setia.
Bagaimana mungkin kita yang memiliki nalar lebih hebat dari binatang justru tak mampu berprilaku melebihi mereka. Renungkanlah kawan, sepanjang perjalanan kita ini yang penuh onak dan duri, aku dan engkau memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangan dan kelebihan kita tidaklah sama. Lalu kemudian kita dipersatukan karena kekurangan dan kelebihan itu untuk saling menutupi. Lalu dengan apa alasan apa orang kadang membenci sesamanya.
Renungkanlah.

Salah Sangka

    aku bukan bintang

    aku bukan batu karang

    aku bukan ombak

    aku bukan gunung

    aku bukan ngarai

    aku bukan binatang

    aku bukan jin

    aku bukan malaikat

    aku bukan alam semesta

    aku bukan bumi dan langit

SALAH
AKU adalah semua yang ADA dan TIADA
termasuk ENGKAU

Susah

suatu ketika
menggambarmu melalui kalimat
kurangkai kata sulit
serasa sangat mudah

hari ini
merangkai kata mudah
menggambarmu dalam sepotong kalimat
serasa sangat sulit
susah

Lupa..!!

oh... ada yang terlupa pagi ini
menyematkan kalimat sayang di gendang telingamu
biar mendengung sepanjang hari
hingga tak akan kau dengar suara sakti melebihi kalimatku

oh... aku lupa
kemarin engkau meyakinkanku
kalimat sayangku masih saja ada
yang kubisikkan 11 tahun lalu...

Narti....

narti....
tahukah kamu
tentang bisikan hati memuji-muji suaramu

narti....
tahukah kamu
betapa lirih suara memuji-muji keindahanmu

narti....
tahukah kamu
sungguh ingatan tak lagi bisa berpaling darimu

narti....

tahukah kamu
benar-benar ada sesuatu yang terpatri dihati
yang tak bisa terbiarkan begitu saja

Belajar Bermimpi

kulihat diriku dengan begitu sempurnanya
badanku berbaju seperti pakaian kebesaran
kulihat semua orang disekitarku berdecak kagum
mereka berebut untuk menyalamiku

kulihat diriku berdiri setengah "pongah"
menyalami mereka dengan sedikit "cuek"
sesekali jemariku yang lain memberi isyarat
pada orang-orang tertentu di sekitarku

kulihat diriku duduk diatas jok mobil mewah
diiringi lagu pop jazz kesukaanku
dengan suhu sejuk yang dicipta AC mobil
di sopiri seorang lelaki setengah baya

kulihat diriku tinggal dirumah mewah
dengan seluruh perabot mewh yang melengkapinya
di garasi terparkir beberapa mobil import
hingga garasi tak lagi muat

kulihat diriku
tak sama biasanya
saat mata tertutup rapat
saat aku berada di antara dua dunia

Jingga

semburat jingga mengusik sepi
pada pagi kau titip senyum
menitis jiwa yang sesak oleh rindu
membahana direlung hati
andai dapat kujamah rindu itu
kuingin dia hadir bersamamu

Pagi yang Sepi
Share with Nina
Friday, July 24, 2009 at 8:48pm
Uploaded via Facebook Mobile

Massiara

Massiara adalah salah satu kebiasaan masyarakat yang dilakukan setelah menunaikan Puasa Ramadhan dan Sholat Iedul Fitri. Massiara adalah bahasa Bugis yang terambil dari kata Ziarah yang bermakna berkunjung atau mengunjungi tempat-tempat tertentu yang suci.
Ziarah dalam ensiklopedi umum dimaknai sebagai salah satu praktik sebagian besar umat beragama yang memiliki makna moral yang penting. Kadang-kadang ziarah dilakukan ke suatu tempat yang suci dan penting bagi keyakinan dan iman yang bersangkutan. Tujuannya adalah untuk mengingat kembali, meneguhkan iman atau menyucikan diri. Orang yang melakukan perjalanan ini disebut peziarah.
Ziarah juga dilakukan dalam bentuk mengunjungi pemakaman (Kuburan) sebagai bentuk pemberian nasihat secara personal kepada peziarah agar senantiasa mengingat maut. Dalam ajaran Islam, Ziarah Kubur adalah merupakan salah satu media nasehat yang paling efektif bagi orang Islam.Aktivitas ini dilakukan biasanya menjelang bulan ramadhan dan setelah melaksanakan Lebaran Iedul Fitri dan Iedul Adha.

Massiara dalam konteks ini dipadankan dengan Lebaran yaitu mengunjungi orang atau sanak famili terdekat dengan maksud untuk menjalin silaturrahim serta menggenapkan ibadah ramadhlan dengan saling maaf memafkan. Akan tetapi kunjungan dari rumah kerumah sekarang tidak lagi dilakukan oleh kebanyakan orang (kecuali anak kecil yang berkeliling kampung minta hadiah lebaran). Hal ini tergantikan dengan telepon, sms, dan video call untuk menjadi sarana menyampaikan ucapan dan permohonan maaf kepada sanak saudara. Meskipun terlihat lebih efektif, murah, simpel, praktis, akan tetapi nuansa Ziarahnya telah hilang, yaitu saling mengunjungi satu sama lain yang tentunya memiliki kesan yang lebih mendalam dalam memperkukuh jalinan silaturrahim dan keiklasan untuk saling memaafkan.
Pengharapan kemudian adalah bahwa penggunaan media tekhnologi sebagai perwakilan dari "Ziarah" semoga hanya pada hal-hal tertentu saja dan tidak menafikan perlunya melakukan "Ziarah Sebenarnya" yaitu melakukan perjalan untuk mengunjugi tepat suci, mengunjungi kuburan, dan mengunjungi sanak keluarga". Karena tidak mungkin kita ziarah ke-Kuburan, Ziarah ke Tempat Suci, dan Ziarah kerumah sanak keluarga dilakukan hanya melalui, telepon, sms, apalagi video call.

Polusi Maya

ada gundah menyelimut tebal
kukira-kira tebalnya seperti asap kendaraan yang berbahan bakar solar
yang keluar dari knalpot mobil 25 tahun
tidak hanya menyemprotkan asap tebal
tapi juga terikut tetesan oli-oli bekas yang menghitam
yang menerpa wajahku
ada sedih bergelayut kokoh
kuterka-terka kokohnya seperti tiang pancang yang terbuat dari beton
yang ditanam ke perut bumi sedalam 25 meter
tidak hanya menimbulkan suara bising saat dipancangkan ke bumi
tapi juga terikut getaran-getaran dipermukaan bumi seperti gempa kecil
yang memekakkan telingaku
meski ada gundah dan sedih
tapi kupunya rindu yang maya

Ijtihad

menyelamatkan hidup separuhnya dari tragedi
raga dengan dada membusung masih kokoh dihantam badai
walau darah memerah telah mengucur bernoktah diserambi hati

langit-langit retak diruang-ruang hati yang tak berpigura wajah
nada-nada sumbang yang berdendang lewat liang-liang pendengaran
menghujam seperti anak panah diujungnya taji beracun


tercabutlah nyawa-nyawa syuhada dengan tangan mengepal tasbih
menggema suara kumandang Takbir membelah langit
meninggalkan warisan jihad didada para mujahid

Rumah Hati

dengan senjata terhunus yang kau letakkan dileherku
sekali tebas nyawapun melayang
merampok hartabendaku yang paling berharga
membawanya pergi dan tak kaukembalikan lagi

dalam kesendirianku merenungi nasib
tak guna rasanya hidup lagi
sejak engkau datang dengan senyuman manis
menjadi perampok dalam rumah hatiku

Untukmu Saudaraku

kau adalah kau
bukan siapasiapa yang seperti lelaki lainnya
tak peduli kau betapa tubuhmu telah merapuh
pada siapa saja kau uraikan semua pikirmu

ada tergelak ketawa terbahakbahak dan ada juga
menangis sedusedan meraung raung 
lalu beberapa dari mereka tak peduli, diam tapi melirikmu
lalu tak pernah kau berpaling dari mereka itu


kau dengan semangatmu terbungkus asa
merubah dunia dengan segala sajaksajak
mengerang kesana kemari tanpa henti
seperti melukis awan digulitanya malam


kau tak pernah henti sedikitpun
bergerak pelan tapi konstan
mewujudkan mimpim tentang mereka
menghiasi hidup indahnya dengan sajak sajakmu

Tak Pernah Ada

tak ada peluh membasahi tubuh
engkau berpeluh dalam dadaku
tak ada air mata menetes dipipi
tangismu di kelopak mataku
tak ada gelisah dalam bathin
gundahmu kubelai dalam jantungku
tak ada nestapa di raga
deritamu kutanggung sendiri






Terpesona

wajah cantik bercahaya
terurai rambut selembut sutera
suaramu bak bulu perindu
menebar aura bidadari

ada jiwa yang tenang
bertahta di dalam raga
membias jadi permata
berkilau menyilaukan mata

Merenung

duduklah sejenak melipat kaki
lalu biarkan pikiranmu kosong
mintalah nurani membaca diri
sukma sejuk tak tertutup amarah

tengadahkanlah kepala
biarkan jemari terbuka
sambutlah ragaku yang goyah
yang tak lagi berjiwa



Tradisi dan Kebudayaan Masyarakat

Kebudayaan dalam bahasa Inggris yang diserap dari bahasa Latin “Colere”, disebut “Culture” yang berarti segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam. Upaya manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya tentu dengan mengandalkan kemampuan manusia sendiri untuk menjadikan alam sebagai obyek yang dapat dikelola untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jadi dapat dikatakan bahwa kebudayaan tersebut lahir sesungguhnya diakibatkan oleh keinginan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dalam bentuk tingkah laku, pola hidup, perekonomian, pertanian, sistem kekerabatan, stratifikasi sosial, religi, mitos dan sebagainya. Kesemua aspek tersebut yang kemudian harus dipenuhi oleh manusia dalam kehidupannya yang sekaligus secara spontanitas akan melahirkan kebudayaan.

Proses pemenuhan kebutuhan tersebut yang bersumber dari alam oleh manusia kemudian dengan kemampuan berfikirnya melakukan inovasi untuk mempermudah dalam mengelola alam yang dimanfaatkan untuk kepentingan hidupnya.
Dari pemahaman tersebut maka akan semakin rumit untuk merumuskan apa sesungguhnya yang dimaksud dengan kebudayaan. Hal ini disebabkan karena ada beberapa pakar yang berbeda dalam mendefenisikan kebudyaan itu sendiri. Akan tetapi pada makalah ini kami mengambil beberapa dari defenisi kebudayaan yang dianggap relevan dengan pokok pembahasan. Jika kebudayaan lahir dari upaya manusia untuk mengelola sumber daya alam maka C.A. van Peursen mengemukakan pendapat bahwa sesungguhnya pengelolaan tersebut dapat diterangkan dengan mengamati dua pergeseran yang terjadi dalam pendapat-pendapat tentang hakekat kebudayaan. (C.A. van Peursen, Strategi Kebudayaan,  Kanisisus, Yogyakarta, 1988; 10)

Dahulu orang berpendapat  bahwa kebudayaan meliputi segala manifestasi dari kehidupan manusia yang berbudi luhur dan yang bersifat rohani seperti misalnya agama, kesenian, filsafat, Ilmu Pengetahuan tata negara dan sebagainya. Kemudian pendapat  tersebut disingkirkan dan diganti dengan pandangan baru bahwa kebudayaan  merupakan manifestasi kehidupan setiap orang, setiap kelompok orang-orang yang berlainan dengan hewan-hewan maka manusia tidak hidup begitu saja ditengah alam melainkan selalu mengubah alam itu.

Pendapat C.A van Peursen ini kemudian mengantar kita untuk memahami bahwa kebudayaan tidak dapat menimbulkan pemahaman bahwa kelompok masyarakat atau bangsa tertentu memiliki kebudayaan yang lebih tinggi (berbudaya)  dan bangsa lain memiliki kebudayaan yang lebih rendah (primitif). Pandangan ini tentu telah berbeda dengan beberapa pandangan sebelumnya yang menganggap bahwa masyarakat tertentu dapat memiliki kebudayaan yang lebih tinggi (high culture) dan kebudayaan yang rendah atau primitif. Bahwa kebudayaan sesungguhnya adalah terkait dengan seluruh manifestasi dari upaya manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, baik yang berkaitan dengan kebutuhan jasmani maupun yang  berkaitan dengan kebutuhan rohaninya.

Dari aspek luas cakupan kebudayaan, E.B. Taylor mengemukakan bahwa kebudayaan merupakan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dari pandangan tersebut maka kebudayaan tidak lagi sekedar menjadi kata benda tetapi kebudayaan menjadi lebih dinamis, senantiasa bergerak sesuai dengan perubahan masyarakat. Dari sifat dinamis masyarakt tersebut sehingga tradisi suatu masyarakat pun senantiasa mengalami perubahan yang nota bene adalah merupakan bagian dari kebudayaan.

Dari pemaham tersebut maka apapun yang dilakukan oleh manusia secara turun temurun dari setiap aspek kehidupannya yang merupakan upaya untuk meringkankan hidup manusia dapat dikatakan sebagai “tradisi” yang berarti bahwa hal tersebut adalah menjadi bagian dari kebudayaan. Secara khusus tradisi oleh C.A. van Peursen diterjemahkan  sebagai proses pewarisan atau penerusan norma-norma, adat istiadat, kaidah-kaidah, harta-harta. Tradisi dapat dirubah diangkat, ditolak dan dipadukan dengan aneka ragam perbuatan manusia. (C.A. van Peursen, Strategi Kebudayaan; 11)

Lebih khusus tradisi yang dapat melahirkan kebudayaan masyarakat dapat diketahui dari wujud tradisi itu sendiri. Menurut Koentjaraningrat (1974), kebudayaan itu mempunyai paling sedikit tiga wujud, yaitu:

  • Wujud Kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya.
  • Wujud kebudayaan sebagai kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan
  • Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. (Mattulada; Kebudayaan Kemanusiaan dan Lingkungan Hidup; Hasanuddin University Press, 1997; 1)
Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai dan norma-norma telah ada sejak manusia itu ada. Dalam sistem kemasyarakat banyak hal yang telah disepakati dan menjadi nilai atau norma-norma yang menjadi tradisi masyarakat tertentu. Misalnya dalam hal penghormatan anak kepada orang tuanya. Seorang anak dalam konteks budaya Bugis dilarang menyebutkan nama Asli Orang tua. Anak hanya diperbolehkan memanggil dengan gelar yang disandangnya jika dia dari kalangan bangsawan dan menyebut Kedudukan jika dia memiliki kedudukan termasuk kepala rumah tangga. Sehingga kemudian penyebutan inipun tidak hanya berlaku pada anak dengan orangtuanya akan tetapi antara yang lebih muda kepada yang lebih tua. Misalnya anak kepada orang tua laki-laki disebut “Embo” atau “Puang” atau “Etta”. Jika hal tersebut tidak dilakukan maka seorang anak dianggap tidak memiliki tatakrama dan sopan santun.

Wujud kebudayaan sebagai kompleks aktifitas manusia dalam masyarakat tentu sangat terkait dengan hal yang berwujud materil. Misalnya dalam pembangunan rumah, baik dari bentuk posisi dan sebagainya. Selain itu dari sistem pengelolaan pertanian, dihuma dan ladang. Kesemuanya itu menjadi bentuk dari kebudayaan masyarakat. Misalnya dalam menggarap tanah pertanian yang menggunakan tenaga manusia, kemudian berubah dengan menggunakan tenaga binatang, seperti kerbau dan sapi. Selanjutnya mengalami perubahan sebagai akibat dari perkembangan dalam bidang Ilmu pengetahuan dan Tekhnologi maka pola dan sistem pertanianpun berubah dengan sistem mekanisasi. Dalam konteks ini maka sesungguhnya telah terjadi suatu perubahan yang luar biasa dari pola pertanian tradisional ke pola pertanian modern.

Wujud ketiga dari kebudayaan adalah berupa benda-benda sebagai hasil dari peradaban manusia pada zamannya. Misalnya gedung, rumah, kantor, sistim pengairan, alat-alat pertanian dan sebagainya. Bertuk tersebut berubah sesuai dengan perubahan nilai, dan sistim yang dianut pada masyarakat tersebut. Perubahan tersebutlan yang kemudian mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan

Hakikat Pendidikan

Dalam kehidupan suatu bangsa, pendidikan mempunyai peranan yang amat penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan hidup suatu bangsa. Dalam rangka mewujudkan pembangunan Nasional maka dalam sistem pendidikan dicantumkan bahwa  pendidikan Nasional adalah erupkan suatu bentuk usaha bangsa Indonesia untuk  membentuk manusia Pancasila sebagaimanusia pembangunan yang tinggi  kualitasnya dan memiliki kemampuan untuk mandiri dan bertanggung jawab serta pemberian dukungan  bagi perkembangan masyarakat  bangsa dan negara Indonesia yang terwujud dalam ketahanan Nasional  yang tangguh dan emngandung  terwujudnya kemampuan bangsa menangkal setiap ajaran, faham dan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila (UU Sistem Pendidikan Nasional, 1989). Dengan demikian dapat difahami bahwa sesungguhnya pendidikan adalah merupakan usaha sadar yang dilaksanakan untuk memungkinkan manusia Indonesia dapat mempertahankan  dan mengembangkan kehidupannya dimasa yang akan datang serta mengembangkan diri secara terus menerus dari satu generasi kegenerasi lainnya. Pendidikan kemudian berarti sebagai salah satu bentuk upaya dalam pembangunan yang  sekaligus menjadi alat  dan tujuan yang amat penting dalam perjuangan mencapai cita-cita dan tujuan Nasional.

Bertanya mengenai hakikat pendidikan maka tidak lepas dari pertanyaan apa yang dimaksud dengan pendidikan. Dari berbagai macam pendekatan dan defenisi yang dikemukkantentang pendidikan maka secara geris besar defenisi pendidikan menggunakan dua pendekatan yaitu  pendekatan epistemologis dan pendekatan ontologis atau metadisik. (Tilaar, 1999). Menurut Tilaar defenisi pendidikan dengan menggunakan pendekatan epistimologis adalah  akar atau kerangka ilmu pendidikan sebagai ilmu. Pendekatan tersebut sebagai bentuk upaya pencarian makna pendidikan sebagai ilmu  yang mempunyai obyek yang merupakan  dasar analisis yang akan membangun ilmu pengetahuan yang disebut sebagai ilmu pendidikan.. Dalam konteks tersebut maka pendidikan adalah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari manusia. Dengan kata lain bahwa pendidikan adalah merupakan upaya untuk memanusiakan manusia. (Tilaar, 1999)

Pendekatan ontologis atau metafisik mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan adalah  suatu proses yang tidak dapat dilepaskan darihakekat kemanusiaan. Dalam pendidikan ini, menurut Tilaar maka keberadan peserta didik  dan pendidikan tidak lepas dari makna  keberadaan manusia itu  sendiri.
Menurut Drijarkara Pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Jadi pendidikan tersebut dilakukan oleh mansuia-manusia dewasa  degan upaya yang sungguh-sungguh  serta strategi dan siasat  yang tepat demi  keberhasilan pendidikan tersebut. (Gunawan, 1986). Dengan demikian maka pendidikan adalah menjadi tanggung jawab orang dewasa terhadap generasi muda untuk mempersipakan generasi muda menjadi manusia pembangunan yang berkualitas.

Dari berbagai macam pengertian dan batasan tentang pendidikan maka secara umum dapat dikemukakan bahwa pendidikan adalah merupakan  usaha sadar mengembangkan eksistensi  peserta didik  yang memasyarakat,, berbudaya dalam kehidupan yang bedimensi, lokal, nasional dan internasional (Tilaar 1999).

Komponen Pendidikan

Secara umum menurut H.A. R. Tilaar hakikat pendidikan  mempunyai beberapa komponen sebagai berikut:

  • Pendidikan adalah merupakan suatu proses berkesinambungan
  • Proses Pendidikan berarti menumbuh kembangkan eksistensi manusia
  • Eksistensi manusia yang memasyarakat
  • Proses Pendidikan dalam masyarakat yang berbudaya
  • Proses yang memiliki dimensi ruang dan waktu
Sebagai suatu proses berkesinambungan pendidikan adalah merupakan  proses yang terimplikasi  bahwa dalam diri peserta didik  terdapat kemampuan yang imanen sebagai makhluk hidup dalam suatu masyarakat. Kemampuan tersebut berupa dorongan-dorongan, keinginan, elanvital yang ada pada manusia. Kemampuan tersebut sesungguhnya hanya dimiliki oleh manusia dan harus dikembangkan  dan diarahkan sesuai dengan niali-nilai yang hidup atau akan dihidupkan dalam  masyarakat.. Proses tersebut seharusnya adalah merupakan proses berkesinambunganyang terus menerus dalam arti bahwa  terdapat interaksi dengan lingkungannya yang berupa lingkungan keluarga, lingkungan manusia, lingkungan sosial dan lingkungan budaya. Proses pendidikan yang berkesinambungan berarti bahwa pendidikan manusia  tidak pernah berhenti ketika anak-didik menjadi dewasa tetapi akan terus menerus berkembang selama terdapat interaksi antara manusia dengan  lingkungan sesama manusia serta lingkungan alamnya.

Proses pendidikan sebagai sebuah upaya untuk mengembangkan eksistensi manusia berati suatu bentuk interaktif. Interaksi tersebut tidak hanya dengan lingkungan manusia akan tetapi juga dengan alam dan dunia ide termasuk dengan Tuhannya. Eksistensi manusia sebagai makhluk berakal , bahwa dengan potensi tersebutyang dijadikan sebagai landasan pemiaan dirinya sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Taggung jawab manusia yang ditumbuh kembangkan melalui proses pendidikan bukan hanya mempunyai dimensi lokal tetapi juga berdimensi nasional dan global

Eksistensi manusia yang memasyarakat bermakna bahwa proses pendidikan adalah merupakan upaya mewujudkan eksistensi manusia yangbermasyarakat. Proses tersebut tidak terjadi dalam keadaan vakum atau stagnasi tetapi terdapat unsur-unsur yang mempengaruhinya seperti  unsur ibu, orang tua pendidikan formal dan pendidikan non formal. Dengan kata lain manusia hanya eksis pada masyarakat danlingkungannya. Hal ini berarti bahwa  tujuan atau visi pendidikan  adalah kongruen dengan tujuan dan visi masyarakat dimana pendidikan tersebut berada. Karena pendidikan mengandalkan nilai hidup dalam masyarakat maka dengan sendirinya proses pendidikan  adalah penghayatan dan pengamalan nilai-nilai tesebut dalam masyarakat.

Proses pendidikan  dalam masyarakat yang berbudaya pun terkait dengan unsur pendidikan, dimana tata kehidupan dalam suatu masyarakat yang sarat nilai terbentuk karena tingkat pengetahuan dan pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat tertentu. Dengan demikian proses pendidikan didalam suatu masyarakat yang berpola pada kebudayaan harus mengembangkan unsur-unsur yang berupa penghayatan dan pelaksanaan nilai-nilai hidup , keteraturan, kedisiplinan para anggota masyarakat.

Dalam proses pendidikan bermasyarakat dan berbudaya yang terkait dengan dimensi waktu dan ruang harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan seluruh perubahan yang terjadi sebagai akibat dari perkebangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Betapa tidak dengan perubahan tersebut maka proses pendidikan yang berlangsung harus dapat memberikan jawaban alternatif dan mempersiapakan manusia untuk dapat menyesuaikan diri dengan perubahan tesebut..

Dari beberapa komponen pendidikan tersebut yang secara holistik integratif berupaya mewujudkan konsep pendidikan secar autuh dalam proses pelaksanannya. Menurut Tilaar bahwa pengembangan manusia melalui pendidikan harus melihat manusia atau peserta didik sebagai makhluk yang dikaruniai potensi yang dapat dikembangkan sedemikian rupa baik sebagai individu ataupun sebagai masyarakat yang sekaligus dapat dimanivestasikan dalam kehidupan kemasyarakatannya.

Instrumen Penelitian dan Teknnik Pengumpulan Data

Instrumen memegang peranan penting dalam suatu penelitian. Mutu penelitian sangat dipengaruhi oleh Instrumen penelitian yang digunakan, karena kevalidan dan kesahihan data yang diperoleh dalam suatu penelitian dsangat ditentukan oleh tepat tidaknya dalam memilih instrumen penelitian. Instrumen atau alat pengumpul data  adalah suatu alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian. Data tersebut dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian.

Selain mutu penelitian ditentukan oleh ketepatan instrumen yang digunakan juga dipengaruhi oleh prosedur pengumpulan data yang ditempuh. Hal ini dapat difahami bahwa  karena instrumen  berfungsi untuk mengungkapkan  fakta menjadi data,sehigga jika kualitas instrumen yang digunakan baik maka data yang diperoleh juga akan baik, dan sebaliknya jika instrumen yang dipergunakan tidak baik maka data yang diperoleh juga tidak baik sehingga dapat berakibat pada kesalah penarikan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan.

Untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian kita dapat menggunakan istrumen yang telah tersedia dan dapat pula menggunakan instrumen  yang dibuat sendiri.(Idrus Austam, 1996) Penggunaan isntrumen yang telah tersedia adalah instrumen yang sudah ditetapkan atau dibakukan  untuk mengumpulkan data variabel penelitian yang telah ditentukan.. Akan tetapi jika istrumen bakua belum tersedia untuk variabel tertentu dalam penelitian tersebut maka peneliti dapat menyusun sendiri instrumen yang yang akan digunakan oleh peneliti dalam melakukan penelitian.
 

Menyusun instrumen  pengumpulan data penelitian dilakukan setelah peneliti memahami betul  apa yang  menjadi variabel penelitian. Pemahaman Penelitia terhadap variabel dan hubungan antar variabel aan mempermudah peneliti dalam mennetukan dan menyususn intrumen penelitian yang akan digunakan. Setelah memahami variabel peneliti dapat menyusun  instrumen untuk dapat menjabarkan kedalam  bentuk sub variabel, indikator, deskriptor dan  butir-butir pertanyaan dan angket dalam daftar cocok atau pedoman observasi. Dengan demikian maka instrumen penelitan menajdi hal penting untuk menjaga agar penelitian yang dilakukan tersebut bermutudan berkualitas.

Hal yag terkait jika membicarakan tentang instrumen penelitian adalah tekhnik pengumpulan data penelitian. Jika instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan dalam penelitian maka tekhnik pengumpulan data adalah merupakan cara atau prosedur yang ditempuh untuk mendapatkan data yang duibutuhkan dalam penelitian Kedua hal tersebut yaitu instrumen penelitian dan tekhnik pengumpulan data adalah merupakan dua hal yang sangat mempengaruhi kualitas data yang diperoleh peneliti dalam suatu penelitian. Sehingga kulaitas data yang dikumpulkan mempengruhi kualitas dan keabsahan serta ketepatan kesimpulan yang diperoleh peneliti setelah melakukan penelitian.

Instrumen Penelitian
 

Sebelum penelitian dilaksanakan maka penelitiminimal sudah memeiliki gambaran tentang  variabel yang akan diteliti sekaligus alat apa yang akan digunakan sebagai pengumpul data penelitiannya. Untuk dapat menetapkan jenis instrumen penelitan yang tepat beberapa hal yang harus diketahui oleh peneliti adalah: mengetahui pengertian metode dan istrumen pengumpulan data, mengertahui kedudukan instrumen pengumpulan data, dan mengetahui faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menetukan instrumen pengumpulan data.

Metode dan instrumen Pengumpulan Data

Methode pengumpulan data adalah cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. (Arikunto 2000). Cara menunjuk pada sesuatu yang sangat abstrak, akan tetapi  hanya dapat dilihat pada prosespenggunaannya. Misalnya Angket (questioner), Wawancara atau interview, pengamatan atau observasi,  ujian atau test, dokumentasi atau documentation dan sebagainya. Sedangkan Instrumen Pengumpulan data adalah  alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan  agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Instrumen penelitian  yang diartikan sebagai  alat bantu merupakan saran yang dapat diwujudkan  dalam benda misalnya angket (questioner) daftar cock (check List), atau pedoman Wawancara, Lembar pengamatan Soal-soal atau testing, scala dan sebagainya.

Dari pengertian dan perbedaan tersebut diata maka dapat diketahui bahwa terdapat kaitan yantara metode dengan instrumen pengumpulan data. Pemilihan suatu jenis metode pengumpulan data  kadang-kadang memerlukan  lebih dari satu jenis instrumen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel pasangan Metode dan instrumen Pengumpulan data menurut Arikonto (2000)

Tabel Pasangan Metode dan Instrumen Pengumpulan Data
 
  Untuk Naskah selengkapnya silahkan klik disini

Ukuran Kebenaran Pengetahuan

Tulisan ini sebenarnya diilhami dari satu pertanyaan ketika saya sedang mengajar. Seorang peserta saya bertanya bagaimana tentang Pengembangan ilmu pengetahuan. Disebutkan bahwa kriteria kebenaran pengetahuan itu adalah Wahyu. Lalu bagaimanakah dengan kedudukan pengetahuan yang dikembangkan tidak didasarkan pada ukuran kebenaran Wahyu (Al-Qur'an dan Hadits). Bukankanh pengetahuan yang berkembang sekarang tidak menjadikan Wahyu sebagai ukuran kebenaran, karena dikembangkan oleh orang-orang yang tidak meyakini kebenaran al-Qur'an dan hadits.

Sebagai agama sempurna, Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. ini tidak terbahtahkan lagi oleh siapapun terlebih-lebih oleh kalangan Umat Islam. Islam sebagai agama yang universal memang telah mendudukkan Ilmu pengetahuan sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan Manusia. Jika kita bandingkan dengan beberapa paradigma Hubungan Agama dan ilmu pengetahuan secara garis besar kita dapat melihat tiga pola umum yaitu:
  1. Paradigma sekuler yang memandang Agama dan Pengetahuan adalah dua hal yang memiliki segmen kajian yang berbeda sehingga keduanya dipandang dikotomis.
  2. Paradigma sosialis memandang Agama adalah sesuatu hal yang tidak perlu sehingga pengetahuan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.
  3. Paradigma islam memandang bahwa Agama dan Ilmu Pengetahuan adalah merupaka dua entitas yang mutlak dan menjadi satu kesatuan yang utuh.
Dari ketiga paradigma tersebut, sesungguhnya Paradigma sosial sedikit lebih ekstrim dibandingkan dengan dua paradigma lainnya. Islam memang sangat mengedepankan Ilmu sebagai dasar mutlak untuk memahami ajaran-ajarannya. Beberapa informasi yang disediakan al-Qur'an berkaitan dengan hal tersebut sangatlah banyak. Bahkan Surah Pertama yang Diturunkan oleh Allah swt adalah memberikan penegasan tentang perlunya pengetahuan dalam kehidupan manusia melalui kata "Iqra'".

Disamping itu dalam islam al-Qur'an ditempatkan menjadi Sumber Pengetahuan, yang berarti bahwa pegnembangan ilmu pengetahuan sesungguhnya adalah merupakan kajian yang mendalam terhadap seluruh rangkaian wahyu yang tertulis dalam Mushaf al-Qur'an. Pada masa awal mula perkebangan ilmu pengetauan di dunia Islam ilmu dikembangkan berdasarkan hasil pengamatan, wahyu, atau renungan para sufi- sebagai induk ilmu pengetahuan (Baqir, 2002, http://ahmadsamantho.wordpress.com). Menjadi jelas bahwa Ilmu dalam Islam sesungguhnya berakar dari al-Qur'an sehingga mudah dipahami bahwa ukuran kebenaran pengetahuan itu didasarkan pada Wahyu. Sepanjang pengetahuan itu tidak bertentangan dengan wahyu maka pengetahuan itu dianggap benar.

Mengapa perlu ada kriteria kebenaran dalam Pengetahuan. Tentu masalah ini diperlukan karena manusia pada hakekatnya dalam upaya mengembangkan pengetahuan dilakukan melalui pengalaman dan hasil dari proses berpikir yang dilakukan untuk menemukan kebenaran. Sehingga mengakibatkan apa yang disebut benar oleh seseorang dari hasil penalarannya belum tentu benar bagi orang lain. Oleh karena itu diperlukan suatu ukuran atau kriteria kebenaran.


Dalam filsafat Ilmu, ditetapkan tiga jenis kebenaran yaitu:
  1. kebenaran epistemologi(berkaitan dengan pengetahuan), 
  2. kebenaran ontologis (berkaitan dengan sesuatu yang ada atau diadakan), dan 
  3. kebenaran semantis(berkaitan dengan bahasa dan tutur kata)
Berdasarkan ketiga jenis kebenaran tersebut melahirkan 4 teori kebenaran yaitu
  1. Teori Korespondensi, kebenaran atau sesuatu keadaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan/pendapat dengan objek yang dituju/dimaksud oleh pernyataan/pendapat tersebut.
  2. Teori Koherensi, Menganggap suatu pernyataan benar bila didalamnya tidak ada pertentangan, bersifat koheren dan konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar
  3. Teori Pragmatisme, menganggap suatu pernyataan, teori atau dalil itu memiliki kebenaran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupan manusia
  4. Teori Kebenaran Illahiah atau agama, sesuatu dianggap benar bila sesuai dan koheren dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak.
Dari ke empat teori kebenaran tersebut dapat mengarahkan kita pada satu kesimpulan bahwa pengetahuan yang benar itu sesungguhnya harus memenuhi keempa tteori tersebut di atas. Nah... ! Teori kebenaran ilahiah yang dijadikan ukuran kebenaran pengetahan dalam dunis Islam sesungguhnya tidak bertentangan dengan Teori kebenaran Korespondensi, Koherensi dan Pragmatisme. Dalam Islam tidak ada satu wahyupun yang bertentangan dengan realitaas yang ada, tidak juga ditemukan dalam Wahyu (al-qur'an) antara satu dengan lainnya dan juga dalam wahyu telah banyak diinformasikan pengetahuan yang didasarkan pada kemanfaatan bagi kehidupan manusia.

Jika dikembalikan pada pertanyaan awal tentang bagaimanakah kedudukan pengetahuan yang dikembangkan tidak didasarkan pada ukuran kebenaran Wahyu (Al-Qur'an dan Hadits) maka dapat secara sederhana dirumuskan bahwa pengetahuan apapun yang dikembangkan dengan mengacu kepada kriteria atau teori kebenaran selain teori kebenaran wahyu "Sepanjang tidak bertentangan dengan Wahyu" maka pengetahuan itu benar adanya. (Wallahu 'a'lam bii showwab)

Mahasiswa Islam (identitas dan Pergerakannya)

Pendahuluan

Suatu sub sistem penting dalam sistem masyarakat Indonesia adalah mahasiswa. Baik  dulu kini dan yang akan datang mahasiswa adalah pembawa dan sekaligus pemecah masalah kehidupan atau beberapa segi wawasan kehidupan yang dianggap rawan didalam dan diluar kampus. Tingkat peranannya sangat tergantung kepada sistem nilai yang dianut dan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi  yang dikuasainya.

Tidak ada wawasan yang tidak ada masalah. Masalah bisa jadi hadir sebagai suatu gejala, atau sebagai akibat dan bahkan bisa juga diciptakan didalam suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa. Sepanjang sejarah konstalasi kebangsaan, di Indonesia peran mahasiswa dari angkatan ke angkatan , mulai dari era kesatuan tahun 1928, Era Gerakan Nasional tahun 1908, Era orde Baru 1966, Era Kemerdekaan 1945 dan Era Reformasi 1999, yang masing-masing memiliki motivasi dan implikasi yang berlainan. Peran tersebut kemudian mahasiswa dianganugrahi berbagai macam pujian seperti Mahasiswa adalah buah hati orang tua, Mahasiswa Tiang Negara, Mahasiswa pemimimpin yang akan datang, Mahasiswa Penegak Kebenaran dan Keadilan, dan berbagai macam gelar yang disandangnya.

Jika peran tersebut masih tetap ingin dilakukan oleh mahasiswa dalam konteks kekinian seharusnya ada lima komponen penting yang ada dalam masyarakat yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam rangka mereposisi gerakan Mahasiswa dimasa datang yaitu:

  1. Masyarakat berproses dalam peninjauan kembali terhadap nilai dan gaya hidup, sebagai akibat dari proses perubahan yang terjadi kearah kehidupan yang lebih “modern”.
  2. Revolusi harapan yang kompleks dan mencapai puncaknya terhadap kesempatan memperoleh pendidikan dan kesempatan kerja.
  3. Arah arus perkembangan sains berubah yang lebih tertuju kepada tingkah laku masyarakat, yaitu sains yang berorientasi pada nilai dan menyatu dengan sumber daya insani dan alami. Kampus menjadi sentral pengembangan Sains dan Kebudayaan.
  4. Perubahan penampilan dan sikap mahasiswa yang drastis, Kampus kemudian menjadi alat uji identitas dan idealisme mahasiswa.
  5. Gerakan sosial yang halus dari para pemikir kampus melawan status quo-nisme masyarakat dan sains. Kampus menjadi tempat untuk merumuskan arah dan laju perubahan sosial yang konfrehensif dan ditopang oleh kemjuan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi. (Saefuddin; 1991; 58)
Reorientasi Kampus

Kelima kekuatan tersebut dapat menjadi nikmat atau laknat terhadap kehidupan manusia secara universal. Perlunya reorintasi kampus sebagai akibat dari adanya kesan fungsi kampus secara verbalistik dikumandangkan berfungsi untuk pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Eksistensi Kampus kemudian dipertaruhkan dan hanya dapat dipertahankan jika kampus dapat meleburkan diri pada lima faktor tersebut diatas. Sejarah telah embuktikan bahwa kampus berperan sebagai “penjaga” Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi dimasa lalu, kini dan mungkin yang akan datang. Akan tetapi sesungguhnya peran tersebut sangat sempit akan tetapi seharusnya kampus dapat menemukan  konsep dan paradigma baru  yang utuh  yang tidak bertolak belakang dengan prinsif-normatif.

Kampus Biru

Ciri Kampus biru, karakter mahasiswa sebagai
sekelompok angkatan muda terpelajar yang membawa misi kecendekiawanan atau Rausyan Fikr dan Pola Gerakan Mahasiswa dapat diketahui dari naskah lengkap kami.

Kita sadar bahwa semua manusia memiliki potensi Intelktual dan sosial yang jika dikelola dengan benar akan dapat menimbulkan kekuatan nyata yang akan meluruskan persfektifsejarah dan sistem sosial dengan penanganan yang profesional, institusional dalam dunia “kampus muslim”

Konsep dasar penerapan nilai Islami dilingkungan universitas harus bersumber dari keyakinan akan paradigma dan epistimologi Qur’ani yang telah ter-ejawantah-kan dalam prilaku Rasulullah SAW. Jika telah memiliki muatan spritual  dalam berbagai konsep fikir dalam kehidupan maka akan memunculkan  aksioma-aksioma ilahiah sebagai dasar-dasar gerakan dan sains yang Islami. Dan hal tersebutlah yang melahirkan mahasiswa yang IDEAS (Imajinasi, Data, Evaluasi, Aksi-Sosialisasi). (Saefuddin, 132). Wallahu ‘allam)





Pustaka

Robert H. Lauer,  Persfektif Tentang Perubahan Sosial, Jakarta, Rineka Cipta,  cet. II 1993.
Suwarsono & Alvin Y. SO, Perubahan Sosial dan Pembangunan, Jakarta, Pustaka LP3S Indonesia, Cet. II, 1991
Abdul Azis Taba, Islam dan negara dalam Politik Orde Baru, Jakarta: Gema Insani Press, 1996.
Adi S. Culla, Masyarakat Madani, (Pemikiran, teori dan Relevansinya dengan Cita-Cita Reformasi) Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999.
Nurcholis Madjid, Kaki Langit Peradaban Islam, Jakarta, Paramadina, 1997,
Saefuddin AM, Desekularisasi Pemikiran Landasan Islamisasi, Jakarta, Mizan, 1997,
Amin Rais, Embrio Cendekiawan Muslim, Jakarta, Perkasa preess, 1995,
Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim, Yogyakarta, Sipress, 1996,

Ingat Aku Ya...!

Punna Tena Bajikku, kodiku tong Se u'rangi

Artinya: Jika tidak ada Kebaikanku untukmu, maka ingatlah Kejelekanku supaya selaluka diingat maksudnya. hahahahhahaha. Asyik kan?

Ingatlah Baiatmu

tidakkah ada kata usai
menebar pesona kemana-mana
lalu muncul derita orang-orang disekitarmu
cibiran jadi jawaban bagi mereka

lupakah tentang baiatmu
menjadi pahlawan bagi penderitaan
sekarang mengancungkan pedang pada orang-orang lemah
apa yang berkecamuk dalam bathinmu


meskipun kebencian yang mereka pendam dalam
tetap mengulas senyum semanis mungkin
menjaga hatimu tak gundah karenanya
tapi hatimu telah terhijab hingga tak peduli


hidup selalu gelap gulita bagi mereka
tak kuasa menyalakan lampu petromaks didinding lusuh rumahnya
pagi buta telah mandi dengan peluh sendiri
karena hidup tidak diruang yang berskat dan beratap


setiap hari menunggu baiatmu ditunaikan
pada mereka yang tertindas nasib dan taqdir
menanti uluran tangan dari hati tulusmu
yang tak juga kunjung datang hingga detik ini

Sadarilah Saudaraku!!!

berkacak pinggang dengan pongah
mengacungkan telunjuk kesana kemari
tidakkah engkau lihat wajah pucat pasi karena kelaparan
sekali-kali bukan karena takut akan tingkah pongahmu


dalam kebisuan laku dan kata-katanya
ada gemuruh pemberontakan dalam hati dan pikirannya
tentang hidupnya yang terbantai olehmu
tentang nasib anak dan isterinya yang digantungkan dipundakmu


engkau yang berkolaborasi dengan pangkat dan kesombongan
membuat pemberontakan orang-orang teraniaya diridhokan Tuhan
semetara engkau telah kufur pada nikmat dari sekeping kekuasaan-Nya
Taqabbur mengantarmu kepintu Neraka


Guru !!! Ingatlah

Zakiyah Darajat mengungkapkan bahwa:
Seseorang yang pada waktu kecilnya tidak pernah mendapatkan didikan agama, maka pada waktu dewasanya nanti, ia tidak akan merasakan pentingnya agama dalam hidupnya

pernyataan ini sangat sederhana tetapi memiliki dasar filosofi yang sangat kuat. Bagaimana mungkin seseorang pada saat dewasanya akan menjalankan agama dalam kehidupannya jika masa kecilnya tak pernah berkenalan dengan aturan-aturan, anjuran-anjuran dan kewajiban agama. Lalu kemudian agama menjadi hal yang tidak penting dalam kehidupannya.

Dapat dibayangkan, bagaiana manusia dapat mempertahankan eksistensi kemanusiaannya jika dalam kehidupannya tidak ada agama besertanya. Tingkah laku yang tidak dikontrol oleh aturan agama, berbicara, berpikir, bertindak tanpa kontrol agama. Sungguh akan menjadi pemandangan yang akan memiriskan hati.

hematku, bahwa cerminan manusia kedepan akan menjadi tanggung jawab guru, yang dari kecil telah memberikan pengajaran dan pendidikan pada anak-anak bangsa kita. Marilah para guru dengan niat ikhlas mencekoki akal pikiran anak didik kita dengan pengetahuan tanpa melupakan dimensi pengembangan keagamaan sebagai potensi alamiah (kodrat) anak didik kita agar dapat berkembang secara optimal.

Harapan besar berada di pundak para guru, yang dalam interaksi edukatif yang dibangun bersama siswa dapat mengintegrasikan pemahaman keagamaan sebagai bahagian integral dari pembelajaran.

Selamat mengajar.......

Kutipan Indah Untukmu

kutipan indah kucari untukmu
yang mewakili perasaanku kini
berlembar-lembar sudah kubaca
beribu-ribu kutipan indah kutemukan
tapi tak juga sempurna menggambarkan isi hatiku

kutanya nuraniku sendu
kutimbang didalam hati
kucerna di dalam akalku
lalu ketemukan kutipan itu

"AKU MENGAGUMIMU"

Rayuan Maut di AA

seperti ombak yang menampar karang
seperti perahu yang terombang-ambing lautan
seperti kaca kristal yang retak karena panas
seperti itulah aku mendengar rayuanmu
Cinta pertamamu menjadi yang terindah
kenangan bahagianya tak pernah lekang oleh masa
memabukkanmu membuatmu kehilangan arah
saat jatuh cinta yang pertama kali
hingga merasakan perih yang paling menyakitkan
hingga luka hatimu yg pertama selalu menjadi yang terperih
seperti itukah yang telah kusemat untukmu
hingga membuatku lupa tersenyum menyimaknya

Uak via AA

SukarnoeKu Mana?

mana Soekarnoku ?
yang membakar semangat nasionalisme
karena bangsaku telah memudarkan semangat itu
hingga pekikan Indonesiaku tak pernah terdengar lagi

mana Soekarnoku ?
yang menggelontorkan radikalisme dan penjajahan
karena bangsaku telah membiarkannya tumbuh
hingga gotong royong dan persaudaraan telah raib

mana Soekarnoku ?
yang telah meninggalkan rindu pada bathinku
tentang sosoknya
tentang perjuangannya
tentang kepemimpinannya

ku ingin
Soekarno ada untuk ku dan untuk bangsaku

uak-ku

Khitbah

masihkah ada ruang-ruang dalam relung hatimu
menjadi tempatku mengumbar rindu
sama saat jiwamu pertama engkau pautkan di bathinku

masihkah ada ruang-ruang dalam pikirmu
menjadi tempatku mengumbar sayang
sama saat ragamu pertama engkau nisbahkan di inderaku

masihkah ada aku
saat hatimu membatin
saat akalmu berpikir

masihkah ada aku
saat senyummu tersungging
saat wajahmu merona

pikirku menerawang
tentang khitbah yang tak kesampaian
menggores luka dalam bathin

Bayang Semu

dimana engkau kini
merebahkan badanmu  yang telah semakin rapuh
terkuras usia yang semakin menua
kulit melepuh karena terik matahari

dimana engkau kini
mendendangkan hatimu yang semakin merana
terkikis moral yang semakin bejad
menista diri karena kondisi

di mana engkau kini
berhentilah bersembunyi dari pandangan ku
tampakkan dirimu utuh di hadapanku
karena ada aku yang rindu sosokmu

kemana hendak ku cari
agar kutemukan  lagi wujudmu
yang telah melenakan harapku
pada hidup yang tak ternista

kemana hendak kucari
agar kurengkuh dirimu
merasakan hangatnya tubuhmu
hingga membakar nuraniku

kemana hendak kucari
agar kupeluk dirimu hangat
merasakan lembut getar jantungmu
hingga nuraniku menembus sukmamu

disini...
selalu menyandingkan kata "DIMANA" dan "KEMANA"
selalu tak pernah dapat bertemu
pada satu muara yang menyatukan kita

pada satu malam
aku tak kuasa menemukanmu
meski hanya sekedar
dalam bayang-bayang semu

Perhiasan dan Amarah

ada amarah menjejak di selubung hati
menghijab logika dan nurani
amarah yang menyemburkan nafsu membara
amarah yang meletup-letup bak lava

telinga seperti tersulut besi membara
menembusnya hingga pekak
tak kuasa lagi menangkap suara
gendang-gendangnya terbakar hangus

tangan gemetar
sekujur tubuh turut bergetar
karena menahan amarah yang memuncak
seakan mencongkel gunung dari akarnyapun bisa

amarah, meluap-luap tak terbendung
tak kuasa menahan dengan benteng baja sekalipun
karena engkau telah dijadikan perhiasan
seperti pigura emas di dinding rumah

Telah Berdua

Sulit
Namun harus kuakui
Semua tak sama lagi

Sesak
Namun harus kuterima
Semua sudah berbeda


Selalu 
Meski sudah tak bisa
Sebab telah berdua


Titip senyum
Untuk kisah lama


By: Amma O'Chem

Ada dan Tiada

Tengah hari Thasa Bin Upe berjalan gontai meninggalkan halaman sekolahnya. Di bawah terik matahari yang menyengat tak dipedulikannya. Langkah demi selangkah perlahan membuat jarak yang semakin jauh dengan pagar halaman sekolahnya. Beberaa menit kemudian Thasa Bin Upe telah sampai di depan rumahnya.

Selang beberapa saat Thasa telah duduk di serambi rumahnya menikmati kendaraan yang sesekali melintas lengkap dengan deru dan asapnya. Pikiran Thasa melayang jauh. Memikirkan tentang dirinya sendiri.

"Saya ada di rumahku sekarang". Gumamnya. Jika seseorang mencariku di sekolah pasti yang ditanya akan menjawab bahwa "aku tidak ada". Betulkah aku tidak ada, sementara aku "disini" dirumahku. Bagaimana pula dengan temanku, dia tidak ada disini, sementara aku "yakin" bahwa temanku "berada" di suatu tempat. mungkin di rumahnya, atau dikebunnya, atau di mall, yang jelas aku yakin jika dia "ada" tapi tidak disini.

Thasa bin Upe memeras otak mencari jawabannya. Mengapa aku disebut tidak ada disuatu tempat sementara ditempat lain aku ada.

Karena bingung, Thasa bin upe mendatangi teman-temannya bertanya tentang ada dan tidak adanya dirinya.

Temannya kemudian memberinya jawaban. Thasa "ada" di Pontianak dan benar ada di pontianak tetapi adanya tidak dalam bentuk "nyata" tetapi "adanya" sungguh-sungguh dalam pikiran-pikiran "Eva". Tentulah Eva tidak dapat menggapai Thasa dalam jangkauan "panca inderanya". Berbeda dengan Thasa yang dapat menjangkau "adanya" dirinya dalam panca inderanya.

Lalu mengapa Thasa dapat menjadi "tiada". Karena Thasa dan dirinya menjangkau dengan panca inderanya, sementara "Adanya" Thasa di Pontianak tidak bisa "tiada" karena dia "ada" dalam pikiran Eva.

Jika demikian, dimana "rumahku"?. Tanya Thasa. Rumahmu ada pada dua dimensi, yaitu dimensi "abstrak" bersama "Eva" dan dimensi "realitas" bersama Thasa sendiri. jawab temannya.

Thasa mengangguk-angguk bertambah bingung.....

Bersama Ghina

fajar belum juga menyingsing
kala tiba-tiba engkau menyentuhku lembut
tanganmu yang gemulai mengusap-ngusap wajahku
yang sedikit berpeluh karena suhu kamar
engkau menciumi hidungku
sembari mengacak-acak lembut rambutku
aku lalu merengkuh tubuhmu
kupeluk erat penuh mesra
engkaupun tersenyum manis kearahku
kubisikkan ditelingamu syahdu
"kenapa sayang"
lalu engkau menjawabnya manja
"mauka kencing bapak"

ohhh anakku yang manja.

Senyummu

Entah berapa lama sudah, sejak pertama engkau membagi senyum seperti itu kepadaku. Aku tak tahu pasti karena memang aku tak bermaksud menghitung pada awalnya. Tapi sekarang tiba-tiba ada keinginan untuk mengetahuinya. Itu karena senyuman itu tak pernah berubah sedikitpun sejak aku melihatnya engkau sunggingkan. Sekarang ada tanda tanya besar di lubuk hati, "mengapa tak sedikitpun berubah senyum itu sejak aku melihatnya"?.

Hari ini aku juga melihatnya. Masih saja seperti itu. Bagaimana memaknainya juga aku tak bisa. Tapi selalu saja syahdu menikmatinya. Kadang ingin rasanya menanyakan makna senyumanmu. TApi tak pernah ada keberanian utnuk itu. Tapi hari ini kupaksa akal memaknainya.

Mungkin senyumanmu bermakna:

1. Engkau ingin beramal setiap kali bertemu denganku
2. Engkau melihatku bertingkah lucu
3. Engkau sedang menarik perhatianku
4. Engkau tak ingin disebut sombong di dekatku
5. Engkau sedang kursus tersenyum
6. Engkau sedang mengingat hal-hal lucu tentangku
Ah... masih sulit rupanya memilih diantara enam pilihan itu. Tapi aku lupa satu jawaban yang meungkin lebih benar.

ENGKAU SEDANG MEMBALAS SENYUMKU

karena setiap kali aku bertemu denganmu, aku selalu tersnyum yang sama kepadamu.

Hikayat Kalbu 4

masihkah kemerdekaan punya arti bagimu
tanpa engkau sadari
aku sering memenjarakan engkau dalam nafsuku

Kemerdekaan menjadi semboyan setiap manusia, dus sekaligus menjadi cita-cita setiap orang di seluruh jagad raya. Menarik memang, karena sifat dasar manusia selalu ingin memperoleh dan merasakan kemerdekaan. Secara sederhana, kadang setiap orang ingin melakukan segala sesuatu berdasarkan keinginannya sebagai wujud dari kemerdekaannya.

Seseorang yang kebetulan memiliki kesenangan memutar musik dengan suara keras, tentulah menjadi kebebasan (kemerdekaan) untuk melakukannya. TAPi sesungguhnya seluruh anggapannya tak benar, jika tidak menghiraukan kondisi sekelilingnya. Kemerdekaan diri atau individu seharunya menurut hemat saya tidak harus kemudian melanggar kemerdekaan individu orang lain.

Degan demikian ada hal yang perlu menjadi perhatian utama, bahwa sekiranya kemerdekaan itu berarti jika dapat memenuhi keinginan pribadi di samping tidak menindas privacy orang lain. Jika tidak maka sesungguhnya kita sedang memperjuangkan kemerdekaan diri, sementara di sisi lain kita telah memejarakan kemerdekaan orang lain.

Di samping itu juga kadang kita merasa telah memperoleh danmenikmati kemerdekaan kita, tapi sesungguhnya kita sedang terpenjara oleh nafsu kita sendiri. Karena tidak mampuan kita menekan pemenuhan pribadi kita yang justru berdampak negatif bagi lingkungan kita. Kalau demikian dimana KEMERDEKAAN itu.

uak Mei 11

Hikayat kalbu 3

hari ini sungguh kupuja
resah dan rindu kupertemukan di beranda hatiku
hingga kulupa cinta telah membesut sukma

Setiap orang pernah merasa kehilangan. Kehilangan barang berharga, kehilangan rasa malahan. Terkadang pada saat masih dalam rengkuhan sepertinya yang kita rengkuh tak berarti apa-apa. Tetapi setelah tiada, seketika kita merasakan betapa berharganya sesuatu itu. Wah ... semua orang seperti itukah. Atau hanya segelintir orang yang merasakannya. Ketika sepasang kekasih sedang memadu asmara, mereka seakan lupa bahwa suatu saat mereka akan berpisah. Siapkah sepasang kekasih itu untuk menanggung rasa kehilangan satu sama lain.

Kehilangan sebnarnya menurut hematku tak lebih dari urusan hati. Kehilangan meninggalkan resah. Resah kan tak lebih dari pekerjaan hati. Jika kehilangan orang yang dicintai.... bukankah masih lebih banyak lagi yang bisa di cintai. Lalu kan yang muncul hanya suasana hati yang berbeda. Ujung-ujungnya yah.. rindu hadir menjadi pelengkap. Jadilah suasana hati menjadi amburadul.

Benarkan jika seseorang kehilangan orang lain. Lalu benar-benar kehilangan. Mungkin tidak demikianlah. Secara fisik IYYA, seseorang yang biasa ada disisi kita memang tidak ada. Tapi apakah kita lalu tidak mengingatnya lagi, tidak membayangkannya minimal. Atau bahkan raut wajahnya masih saja terbayang. Jika kita membenci seseorang, atau sesuatu benda bukan berarti lalu kita membuangnya jauh-jauh. Tetapi selalau saja diingat sekalipun kita sangat membencinya.

Nah apalagi jika kita tidak lagi bersama denganorang yang dicintai. Pastilah selau ada dalam lubuk hati kita. Lalu mengapa kita selalu mengatakan bahwa kita kehilangan dirinya. Ah rasanya kurang terlalu benar. Toh dia masih tetap ada. Memang seseorang itu ada dalam cara kita meng-ADAKAN-nya. Jadi seharusnyalah kita tak merasa kehilangan toh sesuatu yang dianggap hilang itu tetaplah ada dalam jatidirinya. Apalagi Cinta, tak akan pernah hilang karena kita bahagian dari yang kita cintai, sepanjang rasa cinta itu tetap ada.

UPARIATIKI ......

uak, Mei 11

Hikayat Kalbu 2

berharganya waktu, karena setiap saat engkau selalu bersamaku
berharganya hidup, karena merendanya bersamamu
lalu mengapa engkau selalu beranjak pergi
Banyak kalimat sakti yang begitu sanga menghargainya waktu. "Time is Money", paling larislah diseantero jagad. Aku lalu tergelitik dengan kesaktian waktu.Tapi jika kuterjemahkan sederhana waktu itu mudahlah untuk kuhitung. Berapa detik, menit, jam, hari, bulan, Tahun, Abad dan seterusnyalah. Tapi seperti itukah aku harus menghitungnya. Lalu apakah waktu sekedar seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. wah terlalu berat memang.

Yang menarik sesungguhnya bagiku, karena waktu memiliki keunikan tersendiri. Tak ada sekalipun yang mampu me-rewind waktu itu. Lalu tak pernah pula aku menemukan waktu yang persis sama. Selalu saja waktu menyemat kenangan. Selalu saja kupahami setelah waktu menjadi kenangan.  Sulit bagiku menghargainya saat aku pertama bertemu dengan waktu. Ah memang waktu tak mudah kupahami.

Tapi sungguh aku hanya berusaha memahaminya dari bagaimana aku menghargai waktu itu. Berharganya waktu bukan karena aku sedang menikmatinya sendiri. Tapi selalu menjadi mukjizat bagiku kala kunikmati bersama yang lain, bahkan dengan kecoa sekalipun. Saat kecoa kukujar hingga beratus-ratus detik hingga kecoa itupun mati. Bagiku waktu itu menjadi waktu yang sangat menjengkelkan. Tapi jika dipikir-pikir meski menjengkelkan bagiku, bagi kecoa bahkan menjadi musibah.

Waduh.... lalu bagaiana aku menggunakan waktu bersamamu tidak seperti aku dan kecoa. Bisakah waktu direnda bersama dengan cara yang lebih apik. hingga Waktu itu tak perlu menjadi sebuah bencana bagi kita berdua. Ataukah memang sekali-kali perlulah waktu menjadi bencana bagi kita berdua.

Yang kuinginkan, aku dan kamu menikmati waktu bersama dengan cara apapun.

uak, Mei 11

1/3

sepertiga nafasku masih kusimpan
tak ingin rasanya aku menghabiskannya kali ini
akan kujaga sepertiganya untukmu
agar engkau dapat melihatku meregang nyawa

sepertiga inginku kusimpan untukmu
agar aku dapat melihatmu tersenyum
menatap keindahan dunia maya pada
dan memenuhi harapmu pada hidup

sepertiga tangisku kubiarkan mencurah
tak ingin rasanya engkau mendengarnya
agar tak hadir kesedihan dihatimu
agar engkau dapat berbahagia menempuh hidupmu

saat aku meregang nyawa
kupertaruhkan sepertiga hidupku untuk hidupmu
kupertaruhkan perihku untuk kebahagiaanmu
agar engkau menikmati hidup sepertiku
lalu tiba-tiba engkau
karena senyummu membuatku menangis
karena hidupmu membuatku sekarat
karena bahagiamu membuatku menderita
seperti itukah balasan seorang anak kepada ibunya.

dimanakah cinta sejati itu?

adakah cinta sejati
jangan tanyakan padaku
belumlah aku mengenal cinta
apalagi sejatinya

aku hidup dengan cinta
tapi tak pernah kujamah cinta itu
meskipun dia bersemayam di sanubari
tapi tak pernah nyata bagiku

aku sendiri butuh cinta
tapi tak kuhafal baik-baik dalam ingatan
meski selalu kurafalkan
lalu lupa apa yang terucap

engkau kadang memperoleh cinta dariku
dan engkau menikmatinya bahagia
tapi tak pernah kusadari sempurna
kapan cinta itu kuberikan

Bagaimana Menyajikan Laporan PTK

Penulisan laporan hasil PTK yang dilakukan oleh guru wajib untuk dibuat dengan aturan-aturan penulisan ilmiah sesuai dengan tekhnik selingkung yang disepakati. Biasanya petunjuk penulisan ini diterbitkan oleh lembaga seperti Perguruan tinggi atau Instansi DIKNAS. Akan tetapi yang perlu diperhatikan dalam penulisan laporan PTK adalah Item yang termuat dalam BAB IV tentang Hasil Penelitian dan Pembahasan. 


Langkah awal yang anda uraikan (tulis) setelah menulis judul dan nama bab (BAB IV), adalah membuat deskripsi kondisi awal. Deskripsi kondisi awal berisi uaraian tentang keadaan sebelum ada tindakan. Isi uraiannya dapat berupa data kuantitatif maupun data kualitatif. Dalam penlitian non-PTK kondisi umumnya berupa gambaran umum lokasi penelitian


Deskripsi hasil siklus I dan II berisi uraian lengkap mengenai perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, hasil pengamatan, dan refleksi. Keempat aspek tersebut telah dijelaskan secara singkat pada bagian metode penelitian khusus subbab ‘prosedur penelitian’.

Selanjutnya adalah Perencanaan tindakan atau rencana awal berisi uraian strategi pembelajaran. Secara sederhana, uraian tentang strategi pembelajaran sama dengan isi strategi pembelajaran pada Rencana Pelasanaan Pembelajaran (RPP) atau ada yang menyebutnya dengan RP (Rencana Pembelajaran) kasarnya diambil dari “SP” (Satuan Pelajaran). Bedanya adalah, jika dalam praktik atau keyantaannya di kelas rencana tersebut ada yang mengalami perubahan karena “satu dan lain hal” maka yang ditulis adalah apa adanya sesuai dengan strategi yang diterapkan. Sebagai perbandingan, maka dal;am PTK disarankan untuk melampirkan RPP. Setelah itu diuraikan pelaksanaan tindakan merupakan kelanjutan dari perencanaan tindakan. Hal-hal yang dikemukakan dalam subabab ini adalah implementasi dari strategi yang telah dijelaskan sebelumnya.

Hal terakhir adalah uraikan Hasil pengamatan yang diperoleh dari observasi. Observasi dalam PTK pada hakikatnya adalah kegiatan pemerekaman segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan atau perbaikan dilaksanakan. Sebelum observasi dilaksanakan perlu ada kejelasan mengenai: jenis data yang diperlukan dalam satu siklus, indikator yang relevan yang termanivesta-sikan dalam bentuk perilaku guru dan siswa, prosedur perekaman data yang paling sesuai, pemanfaatan data dalam analisis dan refleksi (hal ini telah dibahas sebelumnya pada topik metode penelitian). Observasi dan interpretasi dapat dilakukan secara bersamaan atau terpisah.

Isi uraian hasil pengamatan dapat berupa data kuantitatif maupun data kualitatif. Data kuantitatif disajikan secara dekriptif dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, grafik,  bagan, dan gambar. Data kualitatif diuraikan dalam bentuk essai atau triangulasi.  Sebagai contoh, perhatikan cuplikan berikut ini. Selanjutnya buatlah uraian refleksi sebagai dasar untuk melanjutkan atau menghentikan proses siklu. Rangkaian kegiatan berupa perencanaan, tindakan, dan observasi yang telah dilakukan melahirkan refleksi diri. Refleksi dalam PTK berisi uraian-uraian mengenai dampak yang ditimbulkan setelah tindakan pada siklus 1 dilaksanakan. Secara sederhana refleksi dapat diartikan sebagai evaluasi keberhasilan kegiatan. Pada bagian ini, peneliti menulis segala kemajuan/perkembangan belajar siwa.

Setelah diuraikan setiap siklus selanjutnya pada bagian berikutnya duraikan Pembahasan Tiap Siklus dan Antarsiklus yang memuat tentang Pembahasan tiap siklus berisi tafsiran terhadap temuan-temuan penelitian pada setiap siklus msupun antsarsiklus. Tafsiran tersebut dikaitan dengan teori pustaka yang telah dikemukakan pada bagian kajian pustaka. Tasfsiran juga dapat dilakukan dengan cara membandingkan dengan beberapa hasil penelitian sebelumnya yang relevan. Sebagai contoh perhatikan form berikut ini.

Menerbitkan Buku Gampang?

Bagaimana menerbitkan buku? Susahkah menulis buku? Bagaimana menerbitkannya? dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan seputar penerbitan buku karya sendiri. Ada baiknya melalui blog ini saya kemukakan pengalaman pribadi kami. Memang kami belumlah menjadi seorang penulis buku yang memiliki buku yang masuk dalam daftar Best Seller, tetapi bijak rasanya untuk membagi pengalaman dengan teman-teman pemula. Hal ini dimaksudkan agar muncul lagi penulis-penulis handal yang tidak hanya tulisannya dinikmati oleh segelintir orang akan tetapi dapatdibaca oleh semua orang.

Dalam menulis buku tentu hal pertama yang dilakukan adalah dengan memilih satu tema atau topik besar yang akan diangkat dalam tulisan kita. Setelah itu nanti akan dipecah dan diklasifikasikan berdasarkan tema-tema yang mendukung tema besar kita. Setelah itu, semua tulisan-tulisan yang pernah kita buat dapat dikumpulkan berdasarkan klasifikasi yang kita buat. Nah ..!! Draftnya sudah jadi kan?. Tinggal mengedit bahasa dan tata letak tulisan (biasanya ini diserahkan pada Editor Buku yang memang profesional).

Selanjutnya naskah atau draft buku diserahkan deh kepada percetakan atau penerbit. Di samping itu kita mengurus ISBN di LIPI. Langkah terakhir adalah menunggu hasil Cetakan dari percetakan. hampir ketinggalan tentang Bentuk kerjasama dengan Penerbit alias Royalti...(klo saya sih Royalti belakangan) biasanya ditawarkan oleh Penerbit beberapa Opsi, tinggal kita yang memilih. OK.

Sebagai contoh anda dapat melihat di sini.

Selamat mencoba.

Form Proposal PTK Guru

Bagi Guru meneliti sambil mengajr sudah perlu dilakukan, sebagai salahsatu syarat untuk meningkatkan kompetensi sebagai Guru Profesional. Salah satu point yang perlu adalah dengan melakukan penelitian tindakan kelas. Form ini kami sajikan untuk membantu guru agar dapat  dengan mudah menyusun proposal penelitiannya. Selengkapnya silahkan download disini Form ini digunakan dengan cara mengganti pada setiap item sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh guru. Semoga Bermanfaat

Teori Perkembangan Moral Anak

Teori Erikson disebut dengan Teori psikososial yaitu menggabungkan antara prinsip pribadi, psikologi dan perkembangan kebudayan dan sosial yang didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan diri seseorang merupkan respon pada kebutuhannya.
Lima hal penting yang terkait dengan teori psikososial Ericson yaitu:

a. Manusia secara umum mempunyai persamaan (kebutuhan) mendasar.
b. Perkembangan ego atau pikiran sendiri dalam merespon beberapa keinginan.
c. Proses perkembangan terdiri atas beberapa tahap.
d. Karakter tiap tahap mengalami tantangan psikososial untuk berkembang.
e. Setiap tahap menggambarkan perbedaan motivasi setiap individu.

Tahap-tahap perkembangan psikososial menurut Erikson adalah:
  1. Percaya lawan tidak percaya ( bayi 0-1 tahun ) kepercayaan pada dunia melalui kasih sayang yang terus menerus.
  2. Mandiri lawan ragu dan malu ( anak yang baru berjalan ) ketidaktergantungan ditentukan oleh pengalaman yang berhasil dibentuk melalui dukungan.
  3. Inisiatif lawan rasa bersalah (masa anak-anak 3 – 6 tahun) Sifat menyelidiki dan eksplorasi yang dihasilkan melalui penanganan dan penerimaan tantangan.
  4. Industri lawan Rendah diri (Masa anak-anak menengah 6 – 12 tahun) kemampuan dan kesenangan timbul melalui keberhasilan dan kemampuan prestasi.
  5. Mengenal lawan bingung (Masa Remaja (12-13 tahun) Identitas pribadi, sosial dan emosional
  6. Keintiman lawan Isolasi (Masa muda dewasa) terbuka pada orang lain dan mengembangkan hubungan erat melalui interaksi dengan orang lain.
  7. Perkembangan lawan tetap (Masa dewasa menengah) kreatifitas dan keberhasilan dicapai dari keberhasilan pekerjaan dan penumbuhan rasa tanggung jawab
  8. Kesempurnaan lawan keputusan (Usia Tua) penerimaan terhadap hidup dicapai melalui pengertian terhadap keberadaan dalam lingkaran kehidupan.
TEORI PIAGET
Piaget berpendapat bahwa respon anak-anak terhadap problem moral dibagi atas dua tahapan besar perkembangan yang didasarkan pada prinsip internalisasi yang mengacu pada sumber pengendalian, pemikiran dan tindakan anak-anak. Perkembangan moral menurut Piaget terdiri dari dua bahagian yaitu: (1) tahap moralitas eksternal, di mana peraturan dipandang sebagai sesuatu yang bersikap baku yang dimiliki oleh pihak otoritas, dan (2) moralitas otonomi di mana telah berkembang gagasan rasional tentang kejujuran dan melihat keadilan sebagai proses timbal balik dalam memperlakukan orang lain seperti orang lain memperlakukan dirinya
Respon anak terhadap perkembangan moral tersebut didasarkan pada prinsip internalisasi yang mengacu pada pengendalian, pemikiran dan tindakan anak-anak.

Tahapan Perkembangan Moral Piaget
  1. Tahap Realisme Moral; praoperasional (4-7 tahun); memusatkan perhatian pada akibat perbuatan, aturan-aturan tidak berubah, dan hukuman atas pelanggaran bersifat otomatis.
  2. Tahap Transisi operasional atau kongkret operasional (7-10tahun); perubahan secara bertahap kepemilikan moral tahap kedua
  3. Tahap Otonomi moral, realisme dan resiprositas atau formal operasional (11 tahun ke atas); mempertimbangkan tujuan-tujuan prilaku moral dan menyadari bahwa aturan moral adalah kesepakatan tradisi yang dapat berubah.
TEORI KOHLBERG
Masalah Moral mencakup situasi yang menganjurkan seseorang untuk membuat suatu keputusan moral. Cara manusia menanggapi masalah moral tergantung pada tingkat perkembangan moral mereka.
Tahapan perkembangan moral menurut Kohlberg terdiri dari 3 tingkatan yaitu:

Tahap etika prakonvensional, (Usia 4-10 tahun) terdiri dari dua tahap yaitu:
  1. Tahap orientasi hukuman dan kepatuhan, Pada tahap ini konsep moral anak menentukan kebutuhan prilaku berdasarkan tingkat hukuman akibat keburukan tersebut dan prilaku baik dihubungkan dengan penghindaran dari hukuman.
  2. Tahap orientasi pemuasan kebutuhan, di mana konsep moral anak berprilaku baik dihubungkan dengan pemuasan keinginan dan kebutuhan tanpa mempertimbangkan kebutuhan orang lain.
Tahap etika Konvensional (usia 10-13 tahun) dan terdiri dari dua tahap yaitu:
  1. Tahap orientasi kekompakan, pada tahap ini anak dan remaja berprilaku sesuai dengan aturan dan patokan moral yang ada agar mendapat persetujuan orang dewasa, bukan karena upaya menghindari suatu hukuman. Selain itu perbuatan baik dan buruk dinilai berdasarkan tujuannya. Jadi ada perkembangan kesadaran terhadap perlunya aturan.
  2. Tahap orientasi hukum dan peraturan, anak dan remaja memiliki sikap pasti terhadap wewenang dan aturan serta hukum harus ditaati oleh semua orang.
Tahap etika pascakonvensional. (usia 13 tahun ke atas) terdiri dari dua tahap yaitu:
  1. Tahap orientasi legal dan hak perseorangan, Remaja dan dewasa mengartikan prilaku baik dengan hak pribadi sesuai dengan aturan dan patokan sosial, perubahan hukumdan aturan dapat diterima jika diperlukan untuk mencapai hal-hal yang paling baik, serta pada tahapan ini pelanggaran terhadap hukum dan aturan dapat terjadi karena adanya alasan-alasan tertentu.
  2. Tahap prinsip etika universal, di mana keputusan mengenai prilaku-prilaku sosial didasarkan atas prinsip-prinsip moral pribadi yang bersumber dari hukum universal yang selaras dengan kebaikan umum dan kepentingan orang lain. Selain itu pada tahapan ini keyakinan terhadap moral pribadi dan nilai-nilai tetap melekat, meskipun sewaktu-waktu berlawanan dengan hukum yang dibuat untuk mengekalkan aturan sosial.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Kohlberg ditemukan beberapa rumusan bahwa:
1. Pertimbangan moral seseorang berkembang melalui tahapan yang sama.
2. Setiap individu melalui tahapan-tahapan tersebut dengan cara yang berbeda
3. Perkembangan itu berangsur-angsur dan terus menerus
4. Latihan akan dapat berhasil jika berada pada tahap yang lebih tinggi.