This is default featured slide 1 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 2 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 5 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

Aspek transparansi

Aspek Transparansi 
Transparansi merupakan suatu prinsip yang sangat penting dalam suatu badan usaha. Prinsip ini menjamin adanya pengungkapan ataupun keterbukaan segala informasi yang berkaitan dengan performance serta berbagai permasalahan yang berkaitan dengan badan usaha secara tepat waktu dan akurat. (Mustiko, 2005)
Pengertian transparansi memberikan suatu petunjuk agar pelaku kunci yang terlibat untuk bertanggung jawab dan menjamin kinerja pelayanan publik yang baik. Prinsip transparansi merupakan pelaksanaan keterbukaan dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh pihak terkait atas pelaksanaan kewenangan yang diberikan padanya. Prinsip ini terutama berkaitan erat dengan keterbukaan terhadap efektivitas kegiatan dalam pencapaian sasaran atau target kebijakan ataupun program yang telah ditetapkan. Transparansi mempunyai karakteristik:
  1. Adanya tujuan yang telah ditetapkan;
  2. Penentuan standard yang dibutuhkan untuk pencapaian tujuan;
  3. Mendorong penerapan atau pemakaian standarisasi;
  4. Mengembangkan standard organisasi dan operasional secara ekonomis. (Hutomo, 2002)
Dimensi Transparansi
Ellwod menjelaskan ada 4 (empat) dimensi transparansi yang harus dipenuhi oleh organisasi sektor publik atau badan hukum, yaitu:
  1. Transparansi Kejujuran dan Transparansi Hukum
  2. Tranparansi Proses
  3. Transparansi Program
  4. Transparansi Kebijakan
Indikator Transparansi
  1. Transparansi  kejujuran  terkait  dengan  keterbukaan  atas  tindakan  yang  tidak bertentangan dalam bentuk penyalahgunaan jabatan (abuse a power), sedang transparansi hukum berkaitan dengan jaminan akan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku;
  2. Transparansi proses terkait dengan prosedur pelaksanaan tugas yang berkaitan dengan kecukupan informasi yang diberikan pada publik;
  3. Transparansi program terkait dengan pertimbangan atas pencapaian dari tujuan yang telah ditetapkan serta program yang memberikan hasil optimal;
  4. Transparansi  kebijakan  terkait  dengan  keterbukaan  setiap  organ  terkait  atas kebijakan-kebijakan yang diambil dalam rangka pencapaian tujuan.
Sumber:
Adri Mustiko, Peran Prinsip Transparansi dalam Mewujudkan Good Corporate Governance pada Perseroan Terbatas Terbuka, dikutip dari buku Corporate Governance oleh Tager I. Nyoman (Tesis, 2005).
YB. Sigit Hutomo, “Reformasi Yayasan Perspektif Hukum dan Manajemen, The Jakarta Consulting Group (Editor) 360” Approach on Fondation, (Yogyakarta: Andi, 2002), hal. 144.

Kesulitan Sekolah Mememenuhi Indikator BSNP

Kesulitan Sekolah Mememenuhi Indikator BSNP
Kesulitan Sekolah Mememenuhi Indikator BSNP
Niat pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan terlihat dari beberapa kebijakan yang dianggap dapat mendukung cita-cita tersebut. Hal paling nyata adalah dengan melakukan perubahan pada konstruksi kurikulum sekolah dengan memberikan otonomi ditingkat sekolah untuk dapat mengkresikan dan menysun kurikulum sendiri dengan tetap mengacu kepada aturan-aturan yang tertuang dalam UU No. 20 tahun 2003 tetang Sistem pendidikan Nasional. Demikian pula pada aspek pengelolaan dan manajemen sekolah dimana sekolah diberi hak otonom untuk mengelola secara mandiri anggaran sekolah yang dikucurkan oleh Pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan melalui Program Dana Bantuan Operasional sekolah dengan besarannya mengacu kepada Rasio jumlah siswa. Dari kedua bentuk kebijakan ini yang lebih mendominasi perbedaan antara pengeolaan sekolah paa Era sebelumnya, nampaknya tidak memperlihatkan signifikansi peningkatan mutu sesuai yang diharapkan.
Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah sekolah yang telah memenuhi kriteria pengelolaan sekolah sesuai dengan 8 standar minimum pengelolaan sekolah yang ditetapkan oleh BSNP. 8 indikator tersebut mencakup Standar Isi, Standar Proses, Standap Pengelolaan, Standar Sarana dan Prasarana, standar Pendidika dan Tenaga Kependidikan, Standar pembiayaan dan Standar Evaluasi. Banyak sekolah yang memiliki kesulitan dalam memenuhi delapan standar tersebut. Beberapa Kelemahan dan ketidak mampuan sekolah memenuhi standar minnimum dari 8 standar tersebut adalah sebagai berikut:
Standar Isi
Pada pelaksanaan sekolah yang mencakup standar isi yang sulit diwujudkan sekolah adalah berkaitan dengan kurikulum dan tahapan serta prisip penyusunan kurikulum. Penyusunan kurikulum sedapat mungkin melibatkan Dewan pendidikan dan komite sekolah (stakeholders pendidikan), akan tetapi kebanyakan pihak sekolah hanya menyusun secara mandiri tanpa pelibatan tersebut. Dalam aturan seharusnya kurikulum sekolah disusun melalui kegiatan Workshop dengan beberapa tahapan mulai dari revisi kurikulum, finalisasi, ediing dan penerbitan naskah. Kesemua tahapan tersebut harus melibatkan semua komponen pendiikan termasuk nara sumber yang dianggap memiliki kapabilitas yang mumpuni yang dapat membantu pihak sekolah menyusun kurikulum
Standar Proses
Pelaksanaan kegiatan sekolah yang mengacu kepada standar proses juga masih kesulitan. beberapa hal yang memperlihatkan tiak adanya pengemabangan yang lebih positif adalah berkaitan dengan pelaksanaan supervisi yang diadakan oleh pengawas dan kepala sekolah yang tidak memiliki dokumen secara terencana dalam pelaksanaannya termasuk mendokumentasikan hasil temuan-temuan untuk ditindak lanjuti yang berkaitan dengan kelemahan proses pembelajaran. Di samping itu juga kurangnya sosialisasi dan komunikasi internal antara pihak pengawas dan pihak kepala sekolah berkaitan dengan metode dan pendekatan baru dalam pembelajaran yang diharapkan dpat meningkatkan produktivitas dan kreativitas siswa dalam belajar.
Standar Tendik
Berkaitan dengan standar pendidikan dan tenaga kependidikan ini, masalah yang paling banyak dihadapi sekolah adalah penyiapan tenaga pendidikan yang memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai atau linner dengan bidang studi yang di ajarkan. Selain itu pihak sekolah kesulitan untuk mengangkat tenaga Perpustakaan dan tenaga administrasi yang berlatar belakang sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya. Dan bahkan hampir semua sekolah masih kekurangan tenga konseling yang memiliki latar belakang pendidikan Sarajana bimbingan konseling.

Bersambung...

Oleh Oleh Makassar jadi muatan Lokal Kurikulum Sekolah

Anda mungkin pernah ke Makassar. Di Makassar termasuk Daerah pariwisata dengan beragam keunikan dan kekhasan daerah, dengan suku-suku yang memiliki karakter dan kebudayaan yang beragam. Keragaman ini termasuk di dalamnya adalah makanan khas seperti coto, konro dan beberapa penganan kecil seperti baruasa, kripik wijen dan putu kacang. Sebagai bagian dari usaha untuk mengangkat budaya dan kekahsan daerah ini, beberapa industry rumah tangga telah mengemas dengan baik penganan ini untuk dijadikan oleh oleh Makassar. Siapa saja yang melancong ke daerah bugis makassar dapat memperolehnya.

Sebenarnya tidak lah menjadi salah jika salah satu potensi dan keunikan serta keragaman makanan ini juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rancangan muatan lokal pembelajarn di sekolah. Salah satunya adalah dengan memasukkan keterampilan siswa membuat makanan khas Bugis Makassar. Disamping untuk menjaga dan melestrarikan budaya dan kehasan daerah juga sekaligus dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong tumbuhnya industri baru dalam masyarakat. dengan menyediakan oleh oleh Makassar

Semoga

Pengetahuan atau Kebenaran

Pengetahuan atau Kebenaran
Pengetahuan atau Kebenaran
Pengetahuan atau kebenaran? Pertanyaan ini sedikit nyeleneh bagi sebagian dari otak kiriku. Pengetahuan itu apakah selalu memuat kebenaran ataukan tidak selamanya pengetahuan itu sebuah kebenaran atau mengungkap sebuah kebenaran. jika Pengetahuan itu adalah segala sesuatu yang diketahui dari awal tidak mengetahui adalah sebuah kebenaran. lalu bagaimana jika pengetahuan itu memiliki nilai yang salah. Masihkah pengetahuan itu dapat disebut sebagai pengetahuan yang benar. Ataukan pengetahuan tentang sesuatu yang bernilai salah itu adalah pengetahuan salah atau benar. Jika iyya apakah sesungguhnya kebenaran itu dan apakah sesungguhnya kebalikan dari sebah kebenaran.

Pengetahuan dan kebenaran seperti dua hal yang tidak dapat dibedakan, dimana pengetahuan sesungguhnya adalah merupakan sesuatu yang benar, dalam makna bahwa pengetahuan itu adalah sesuatu yang bersesuaian dengan kondisi yang sebenarnya. Jika demikian pengetahuan itu tak bebas nilai?. Sebagai illustrasi jika dulu seseorang tidak mengetahui bahwa "Si A pencuri" hingga ditemukan data dan fakta yang akurat bahwa Si A benar-benar pencuri. Apakah pengetahuan tentang Si A pencuri adalah pengetahuan yang salah? Karena pengetahuan "Si A Pencuri" adalah sesuatu yang negatif. Ataukah pengetahuan tentang "Si A Pencuri" adalah pengetahuan yang benar?, karena kita telah mengetahui dengan benar bahwa "Si A itu Pencuri". 
Pengetahuan dan kebenaran ataukah pengetahuan dan kebenaran. Masih tanda tanya.

Lomba Seo

Loba seo arti kata butta salewangang seru juga. postingan yang paling seru sebenarnya ada di sini di arti kata butta salewangang. liat aja kalo tidak percaya. heheheh

Daftar Literatur Pendidikan

 Berikut daftar pustaka untuk dijadikan literatur untuk menulis masalah kependidikan.
  1. Abdullah, S. 1995. Birokrasi dan Pembangunan Nasional: Studi Tentang Peranan Birokrasi dan Implementasi Program-Program Pembangunan di Sulawesi Selatan. Disertasi tidak diterbitkan. U. Pandang: PPs Unhas.
  2. Abdurrachman, H. A. 1969. Leadership (Teori Pengembangan & Filosofi Kepemimpinan Kerja). Jakarta:  Dinas Latihan Jabatan LAN.
  3. Abdurrahman, H., Pengelolaan Pengajaran, Ujung Pandang Fak. Tarbiyah IAIN Alauddin, 1990
  4. Abu Ahmadi dan Ahmad Rohani. Bimbingan Konseling Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. 1991.
  5. Abu-Duhou, Ibtisam. 2002. School Based Management (Manajemen Berbasis Sekolah). Terjemahan oleh  Noryamin dkk. Jakarta: Logos
  6. Abustam,  I. 1991. Kualitas Kekaryaan Guru, Suatu Tuntutan untuk Meningkatkan Kualitas Sumberdaya Manusia. Makalah yang Disampaikan pada Seminar Pendidikan di Kota Palopo, 9 Maret 1991.
  7. Abustam, Idrus HM, et al. 1996. Pedoman Praktis Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah. Ujungpandang : Lembaga Penelitian IKIP.
  8. Abustam, Idrus HM, et al. 1996. Pedoman Praktis Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah. Ujungpandang : Lembaga Penelitian IKIP.
  9. Abustam, Idrus HM, et al. 2002. Pedoman  Penyusunan  Tesis dan Desertasi. Ujung Pandang: Program Pascasarjana IKIP Ujungpandang.
  10. Abustam, Idrus HM, et al. 2002. Pedoman  Penyusunan  Tesis dan Desertasi. Ujung Pandang : Program Pascasarjana IKIP Ujungpandang.
  11. Adjid, D. 1985. Pedesaan dalam Pembangunan Pertanian Berencana. Bandung: Orba Sakti.
  12. Ahanadi, Abu. 1985. Pengantar Metodik Deduktif Untuk Guru dan Calon Guru. Bandung : Tarsito.
  13. Ahmad Sangidu Menjalin Komunikasi dengan Anak, Artikel Majalah Nasehat Perkawinan dan Keluarga, Edisi tahun XIV No.175, Jakarta. . 1987.
  14. Akbar, Ali. Dr. Merawat Cinta Kasih. Jakarta : Pustaka Antara, 1981.
  15. Al Abrasyi, Muh. Athiyah. Prof. Dr. Dasar–Dasar Pokok Pendidikan Islam. Diterjemahkan oleh Bustami A. Gani Djohar Bahri LIS. Cet. II Jakarta : Bulan Bintang, 1974.
  16. Al Syaibany, Omar Mohammad Al Toumy. Filsafat Tarbiyah  Al Islamiyah. Alih Bahasa Dr. Hasan Langgulung dengan judul “Falsafah Pendidikan Islam” Cet. I: Jakarta : Bulan Bintang, 1979.
  17. Al-Abrasyi, Muhammad Athiyah. Al-Tarbiyah Al-Islamiyah. Diterjemahkan Bustami A. Gani dan Djohar Bahry. 1987 Jakarta: Bulan Bintang.
  18. Al-Abrasyi, Muhammad Athiyah. Al-Tarbiyah Al-Islamiyah. Diterjemahkan Bustami A. Gani dan Djohar Bahry. 1987 Jakarta: Bulan Bintang.
  19. Alam, Sei Dt. Tombak. 2002. Ilmu Tajwid Populer. Jakarta: Bumi Aksara.
  20. Alhadza. 1986. “SIVA (Stability, Integrity, Voluntarism and Achievement.” Program. Online.(http://www.Depdiknas.go.id/inlink.php?). Diakses 15 November 2004
  21. Ali, Muhammad. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung: Angkasa. 1985.
  22. Ali, Muhammad.. Guru dalam Proses Belajar Mengajar,  Bandung: Sinar Baru; 1992
  23. Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1974. Tafsir al-Maraghy. Tanpa Penerbit.
  24. Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. 1974. Tafsir al-Maraghy. Tanpa Penerbit.
  25. Al-Syaibany, Oemar Muhammad  Al-Toumy. Falsafah al Tarbiyah al-Islamiyah, Diterjemahkan oleh Hasan Langgulung. 1979. Jakarta: Bulan Bintang.
  26. Anoraga, Pandji. 1998. Psikologi Kerja. Jakarta: Rineka Cipta.
  27. Anwar, M.I. 1987. Kepemimpinan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Angkasa.
  28. Arifin, H,M., Pokok Pikiran tentang Bimbingan dan Penyuluhan Agama. Jakarta: Bulan Bintang. 1997.
  29. Arifin, HM. 1991. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta; Bumi Aksara.
  30. Arikunto, Suharsimi, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan,Cet. XIII; Jakarta: Bumi Aksara, 1997
  31. Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek) Cet. VIII; Jakarta: Rineka Cipta, 1992
  32. Arikunto, Suharsimi. 1990. Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta: Bumi Aksara.
  33. Arikunto, Suharsimi. 1999. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
  34. Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
  35. Asshiddiqie, Jimly, 1998. Pembinaan Minat Baca. Disajikan pada Kongres Bahasa Indonesia VII. Jakarta
  36. Atmosudirdjo. 1984. Beberapa Pandangan Umum tentang Pengambilan Keputusan. Jakarta : Ghalia Indonesia.
  37. Azra, Azyumardi. 2002. Paradigma Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokratisasi. Jakarta: Kompas.
  38. Bafadal, Ibrahim. 1992. Supervisi Pengajaran: Teori dan Aplikasinya dalam Membina Profesional Guru. Jakarta: Bumi Aksara.
  39. Bafadal, Ibrahim. 2002, Peluang  dan Tantangan Manajemen Berbasis Sekolah. Makalah. Disajikan pada Konfrensi Nasional Manajemen Pendidikan. Jakarta 8-10 Agustus.
  40. Bafadal, Ibrahim. 2003. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
  41. Bafadal, Ibrahim. 2003a. Manajemen Perlengkapan Sekolah: Teori dan Aplikasinya. Jakarta: Bumi Aksara.
  42. Bafadal, Ibrahim. 2003b. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar: Dalam Kerangka Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
  43. Bafadal, Ibrahim. 2003c. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar: Dari Sentralisasi Menuju Desentralisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
  44. Bahnan, Abu Bakar. 2003. Hubungan Antara Kemampuan Membaca Al-Qur’an dengan Prestasi Belajar Siswa di Kabupaten Gowa. Tesis. Tidak diterbitkan. Makassar, UNM.
  45. Balitbang Dikdasmen. 2004. “Manajemen peningkatan Masa Depan.” Program. Online. (http://www. Depdiknas.go.id/inlink.php? /MBS%20/Didaktika). Diakses 25 Desember 2004.
  46. Barlian Somad. Drs. Beberapa Persoalan Pendidikan Islam. Cet. I; Bandung : PT. Al-Ma’arif, 1981.
  47. Barnadib,I. 1982 . Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta : Studyng.
  48. Barto, dkk. 1997. Kaitan Antara Indeks Prestasi dengan Etos Kerja Dosen IKIP Surabaya : Surabaya Lembaga Penelitian IKIP Surabaya.
  49. Bimo Walgito. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset. . 1989
  50. Bintaha, Mulyadi. 2003. Kualitas Kekaryaan Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Majene. Makassar. Tesis Magister. Program Pascasarjana UNM.
  51. BPS Kabupaten Selayar. 2002. Kabupaten Selayar Dalam Angka 2002. Makassar. UD. Agung
  52. Budiarjo,A. 1987. Kamus Psikologi. Semarang : Dahara Prize
  53. Conyers, Diana. 1984. Perencanaan Sosial di Dunia Ketiga Suatu Pengantar. Terjemahan oleh Susetiawan, S.U., Affan Gafar. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
  54. Dahlan, Aisya. Ny. Membina Rumah Tangga Bahagia dan Peran Agama Dalam Rumah Tangga. Jakarta : PT. Jamunu, 1969.
  55. Damin, Sudarman. 2003. Agenda Pembaharuan Sistem Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  56. Danim, Sudarwan. 2002. Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung: Pustaka Setia.
  57. Dapartemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia Cet. I; Jakarta: Balai Pustaka, 1988
  58. Darajat, Zakiah . Pembinaan Jiwa/Mental. Cet. IV; Jakarta : Bulan Bintang, 1974.
  59. Darajat, Zakiah . Pendidikan Agama Dalam Kesehatan Mental. Cet. III; Jakarta : Bulan Bintang, 1982.
  60. Darajat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta : Bulan Bintang, 1970.
  61. Darajat, Zakiah. Kesehatan Mental.  Cet. XI; Jakarta : Gunung Agung, 1983
  62. Darajat, Zakiah. Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental. Cet. III; Jakarta : Gunung Agung, 1983.
  63. Darajat, Zakiyah, 1974. Pendidikan Jiwa/Mental, Jakarta: Bulan Bintang,
  64. Darajat, Zakiyah, 1974. Pendidikan Jiwa/Mental, Jakarta: Bulan Bintang,
  65. Darma, Agus. 1995. Manajemen Perilaku Organisasi: Pendayagunaan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Erlangga
  66. Depag RI. 2001. Modul dan Model Pelatihan Pengawas Pendais. Dirjen Bimbaga Islam. Jakarta
  67. Departemen Agama RI . Filsafat pendidikan Islam. Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama / IAIN di Jakarta Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. Jakarta, 1981
  68. Departemen Agama RI . Pedoman Guru Agama. Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan Islam. Jakarta : t. p., 1978.
  69. Departemen Agama RI, 1984. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Surabaya: Jaya Sakti
  70. Departemen Agama RI, 1984. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Surabaya: Jaya Sakti
  71. Departemen Agama RI. 2003. Kurikulum Sekolah Menengah Atas (SMA) GBPP Pendidikan Agama Islam. Jakarta. Dirjen Pembinaan Kelembagaan Islam.
  72. Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an, Jakarta : 1985.
  73. Departemen Pendidikan Nasional Indonesia, 2000, “Program Pembangunan Nasional (propernas 2000-2004) Pembangunan Pendidikan.” Program. Online. (http://www.Depdiknas.go.id/inlink.php?/program/propernas). Diakses 2 Maret 2004.
  74. Departemen Tenaga Kerja RI. 2002. Situasi Tenaga Kerja dan Kesempatan Kerja Di Indonesia.  Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  75. Depdikbud. 1994. Petunjuk Teknis Program Kejar Paket B setara SLTP.
  76. Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka
  77. Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka
  78. Depdikbud. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta :  Balai Pustaka.
  79. Depdikbud. 1999. Perangkat Monitoring Evaluasi Pendidikan Menengah Kejuruan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek SMK
  80. Depdiknas, Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pelaksanaannya, Sinar Grafika,  Cet. III , 1993
  81. Depdiknas, Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pelaksanaannya, Sinar Grafika,  Cet. III , 1993
  82. Depdiknas. “Program Pembangunan Nasional (propernas 2000-2004) Pembangunan Pendidikan.” Program. Online. (http://www.
  83. Depdiknas.go.id/inlink.php?/program/propernas). Diakses 2 Maret 2004.  2000.
  84. Dharma Agus, 1985. Manajemen Prestasi Kerja. Jakatra : CV. Rajawali.
  85. Direktoral Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. 2002a. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah: Konsep Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
  86. Direktoral Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. 2002b. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah: Rencana dan Program Pelaksanaan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
  87.  Direktoral Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. 2002c. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah: Panduan Monitoring dan Evaluasi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
  88. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2002. Panduan Umum Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
  89. Direktorat Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. 2001. Partisipasi Masyarakat. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
  90. Echols, John M. 1990. Kamus Bahasa Inggris (et al 18 ). Jakarta :  PT. Gramedia.
  91. Effendi. O. U. 1977. Kepemimpinan dan Komunikasi. Bandung: Alumni.
  92. Engkoswara, Dasar-Dasar Methodologi pengajaran, PT. Bina Aksara, Jakarta, 1984
  93. Fahmi, Mustafa. Kesehatan Jiwa Dalam Keluarga, Sekolah Masyarakat. Alih bahasa DR. Zakiah Daradjat. Jilid III; Jakarta : Bulan Bintang, 1977.
  94. Fattah, N. 2003. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
  95. Fattah, Nanang. 1996. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung :  PT. Remaja Rosdakarya.
  96. Fattah, Nanang. 2000. Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan. Bandung :  PT Remaja Rosdakarya.
  97. Fattah, Nanang. 2003. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  98. Flippo, B.E. 1998. Manajemen Personalia (terjemahan Masud, Moh.). Jakarta Erlangga.
  99. Frans, V. 1989. Etika Umum. Yogyakarta: Andi
  100. Gaffar, M.F. 1995. Status Pengelolaan Satuan Pendidikan, Antara Kenyataan dan Harapan. Makalah Pada Temu Ilmiah Nasional Manajemen di Padang.
  101. Geertz, Clifford. The Interpretation Of Cultures, Basic Book New York: Publisher Inc
  102. Gibson, dkk. 1997. Organisasi (Perilaku, Stuktur, Proses). Jild I, Edisi ke 8 (Alih Bahasa : nunuk Adriani). Jakarta : Bina Rupa Aksara.
  103. Gibson, Ivancevich, Donnelly. 1997. Organisasi, Perilaku, Struktur, Proses. Jilid 1. Jakarta: Binarupa Aksara
  104. Gibson, James, L Invacevich John M, dan Donnely, James H. 1993. Organisasi dan Manajemen: Perilaku Struktur dan Proses (alih bahasa Djoerben  Wahid ). Jakarta: Erlangga
  105. Gitosudarmo, Indriyo. 1990 . Prinsip Dasar Manajemen. Yogyakarta: BPFE
  106. Gomes, F.Cardoso. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yokyakarta: Andi Ofset
  107. Hadi, Sutrisno, Metodologi Research, Cet. XXVII; Yogyakarta: Andi Offset, 1994
  108. Hadijah Salim. Rumah Tangga Teladan. Cet. II, Bandung : PT. Al-Ma’arif, 1979.
  109. Hadiyanto, Mencari Sosok Desentralisasi Manajemen Pendidikan di Indonesia, Jakarta; Rineka Cipta; 2004
  110. Hajar, Ibnu. 1996. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  111. Hamalik, Oemar. 1991. Perencanaan dan Manajemen Pendidikan. Bandung: CV. Mandar Maju.
  112. Hamid, Abu. 1993 Etos Kerja dan Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan (Suatu Sorotan Dari Segi Nilai Sosial Budaya). Jakarta : Laknas-LIPI
  113. Hamijdojo, Santoso. S. 2002. Kesiapan Masyarakat dalam Mendukung Implementais SBM. Disajikan pada Konfrensi Nasional Manajemen Pendidikan. Jakarta 8-10 Agustus.
  114. Handayaningrat, Soewarno. 1993. Pengantar Studi lmu Administrasi dan Manajemen . Jakarta: CV. Haji Mas Agung
  115. Handayiningrat, Soewarno. 1995. Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan Manajemen. Jakarta; Raja Grafindo Persanda.
  116. Handoko, Hani. 1985. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia Yogyakarta:  Liberty.
  117. Handoko, Hani. 1994. Prestasi atau Kinerja Dipengaruhi oleh Berbagai Faktor. Jakarta: Grafindo Persada.
  118. Handoko, T. Hani. 1999. Manajemen. Yogyakarta: BPFE
  119. Hasbi, Muhammad. 2004. Pengaruh Motivasi dan Kualitas  Kekaryaan Terhadap Kinerja Guru SMU Negeri  di Kabupaten Barru. Tesis Magister. Program Pascasarjana UNM.
  120. Hasibuan, Malayu. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
  121. Hasibuan, Malayu S.P. 1999. Organisasi dan Motifasi (Dasar Peningkatan Produktivitas). Jakarta : Bumi Aksara.
  122. Hasibuan, Malayu S.P. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta :   Bumi Aksara.
  123. Hersey, Paul and Blanhard,Kenneth H.1982. Manajemen of Organization Behavior, Utilizing Human  Resource 4th. Ed. New Jersey: Engleword Cliffs. Printice-Hill Inc
  124. Heryawati, B. 2002. Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Etos Kerja Guru di SMK  YPLP PGRI 1 Makassar. Makassar: Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar
  125. Imron, Ali. 1995. Kebijaksanaan Pendidikan di Indonesia: Proses, Produk dan Masa Depannya. Yogyakarta: Bumi Aksara.
  126. Imron, Ali. Kebijaksanaan Pendidikan di Indonesia: Proses, Produk dan Masa Depannya. Yogyakarta: Bumi Aksara. 1995.
  127. Indrafachrudi. S. dkk. 1986. Pengantar Kepemimpinan Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
  128. Irawan, P. dkk. 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia.  Jaka STIA-LAN.
  129. Irmansyah, Mamat R. 1987. Ilmu Administrasi dan Managemen. Bandung: Armico
  130. Ishak, Baego, Evaluasi Pendidikan Ujung Pandang: Fakultas Tarbiyah IAIN Aladdin, 1996
  131. Ishak, Baego, Evaluasi Pendidikan Ujung Pandang: Fakultas Tarbiyah IAIN Aladdin, 1996
  132.             Jakarta .
  133. Jalal Fasli, 2001. Perspektif Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda dalam
  134. Jalal,Abdul Fatah,1988. Azas-Azas Pendidikan Islam,terjemahan,Herry Noer Ali, cetakan I, Bandung diponegoro.
  135. Kadariyah, 1991 Analisa Pendapatan Nasional. Jakarta : Ghalia Indonesia.
  136. Kahar, Mas’ud Hasan Abdul, dkk, Kamus Ilmiah Pengetahuan Populer, Bandung: Bintang Pelajar, t.th.
  137. Kartono, Kartini, 2002. Pemimpin dan kepemimpinan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
  138. Kartono, Kartini. 1992. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: Pt. Raja Grafindo
  139. Kartosapoetra, G. 1987. Administrasi Perusahaan  Industri. Jakarta: Bumi  Aksara
  140. Karya Anda. Kamus Populer Internasional. PO. Box : Surabaya, t. th.
  141. Keating. C. J. 1986. Kepemimpinan Teori dan Pengembangannya (Terjemahan). Yogyakarta: Kanisius.
  142. Kelley. H.H. 1976. Attibution Theoryin Social Psyckology Nebraska, Symposiumon Mativation. Lincoln: Universityof Nebraska Press
  143. Kerlinger, F.N. 1993. Asas-asas Penelitian Behavioral. Terjemahan Koesoemanto.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  144. Kerlinger, Fred N. 2002. Asas-asas Penelitian Behavioral. Jakarta: Gajah Mada University Press..
  145. Koontz, Harold / Cyril O’Donnell dan Heinz Weihrich. 1996. Manajemen. Jakarta: Erlangga
  146. Kossen. S. 1986. Aspek Manusia dalam Organisasi.  Jakarta: Erlangga.
  147. Kusrini, St. dkk. Keterampilan Dasar Mengajar, Malang: Fakultas Tarbiyah; 2005
  148. Laila, Siti. 2001. Pengaruh Pembinaan Kemampuan Mengajar dari Kepala Sekolah Terhadap Etos Kerja Guru di SMU Negeri Surabaya. Surabaya: Program Magister IKIP
  149. Langgulung, Hasan. 1988. Asas-Asas Pendidikan Islam. Jakarta Pustaka al-Husna.
  150. Lateiner. A. F. 1961. Teknik Kepemimpinan Pegawai dan Pekerja (Terjemahan). Jakarta: Jayasakti.
  151. Lingrew, Henry. 1976. Educational Psychology in The Classroom. Toronto : John Wiley & Sons.
  152. M. Arifin. ED. Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di Lingkungan Sekolah dan Keluarga. Jakarta : Bulan Bintang, 1978.
  153. M. Jafar. Beberapa Aspek Pendidikan Islam. Surabaya : Al-Ikhlas, 1982.
  154. M. Junaidi Coon. Drs. Arah Sasaran dan Tujuan Pendidikan. (Suatu Tinjauan Analisa), t.t p.: t.p., t. th.
  155. M. Sastra Praja. Kamus Istilah Pendidikan dan Umum. Surabaya : PT. Nasional, 1981.
  156. Ma’ruf Nur, Faried. Menuju Keluarga Bahagia dan Sejahtera. Cet. I; t. p., 1980.
  157. Maidin, Nasir. 1993. Kemampuan Siswa Membaca Al-Qur’an pada SMA di Kabuaten Pinrang. Tesis. Tidak diterbitkan. Makassar, IAIN.
  158. Maidin, Nasir. 1993. Kemampuan Siswa Membaca Al-Qur’an pada SMA di Kabuaten Pinrang. Tesis. Tidak diterbitkan. Makassar, IAIN.
  159. Manangkasi, 1998 . Statistik Terapan. FIP. IKIP . Ujung Pandang
  160. Mangkunegara, Prabu, Anwar. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung : remaja Rosdakarya.
  161. Manullang, M. 1994. Pedoman Praktis Pengambilan Keputusan. Yokyakarta: BPFE.
  162. Mappanganro, 1996. Implementasi Pendidikan Islam di Sekolah, Ujung Pandang: Yayasan Ahkan,
  163. Mar’at, 1982. Sikap  Manusia, Perubahan dan Pengukurannya. Jakarta: Ghalia Indonesia
  164. Marimba, D. Ahmad. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung : PT. Al-Ma’rif, 1983.
  165. Med. Ahmad Ramli. Kamus Kedokteran. Jakarta : PT. Sap Dodadi, t.th.
  166. Moekijat. 1984. Kamus Manajemen.  Bandung: Alumni
  167. Moenir, H.A.S. 2001. Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
  168. Mubiyarto dan Kartodirjo. S. 1989. Pembangunan  Pedesaan di Indonesia. Jakarta. Liberty.
  169. Muhaimin, MA dan Abd Madjid, Pemikiran Pendidikan Islam. Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalnya, Cet  I; Bandung: Triganda Karya, 1993
  170. Mukijat. Pengawasan Efektif. Bandung: Angkasa. 1990.
  171. Mulyadi Guntur Waseso, Drs. 1986 Psikologi   Sosial.   Yogyakarta : PT Hamidita
  172. Mulyasa, E 2003. Kurikulum Berbasis Kompentensi . Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
  173. Mulyasa, E., 2002. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
  174. Mulyasa, E., 2005.Menjadi Guru Profesional, Meciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
  175. Mulyasa, E., Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. 2003.
  176. Munawir, Ahmad warson. 1997. al-Munawir – Kamus Arab Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif.
  177. Munawir, Ahmad warson. 1997. al-Munawir – Kamus Arab Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif.
  178. Muzakir, Abdul Kahar., Moh. Ichsan dan Tjahdjanuli Domai. 1999. “Pengaruh Keterlibatan Masyarakat Terhadap Pelaksanaan Program Pembangunan Masyarakat Terpadu.” Wacana No. 2, hlm. 12-23.
  179. Nasution, J.U. dkk. 1981. Minat Membaca Sastra SMA Kelas III Jakarta: Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kabudayaan
  180. Nasution, J.U. dkk. 1981. Minat Membaca Sastra SMA Kelas III Jakarta: Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kabudayaan
  181. Nasution, S. 1986. Didaktik Azas-Azas Mengajar: Bandung: Yanmars..
  182. Nasution, S. 1986. Didaktik Azas-Azas Mengajar: Bandung: Yanmars..
  183. Nawawi, Hadari, dan Hadari, Martini, M. 1993. Kepemimpinan yang Efekthif, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
  184. Nawawi, Hadari. 1995. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. Jakarta  : Gunung Agung
  185. Nawawi, Hadari. 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Bisnis yang Kompetitif. Yokyakarta: Gajah Mada University Press.
  186. Ngalim Purwanto. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 1992.
  187. Nitisemito, AS 1982. Manajemen Personalia(Manajemen Sumber Daya Manusia). Jakarta : Ghalia Indonesia.
  188. Nitisemito, AS 1996. Manajemen Suatu Dasar dan Pengantar. Jakarta : Ghalia Indonesia.
  189. Nurdani Sarjono Bimo. Membina Keluarga Sejahtera. Cet. III; Jakarta: Biro Perencanaan Motivasi BKKBN, 1973.
  190.            Otonomi Daerah( makalah) Makassar.
  191. Pamudji. 1985. Pembinaan Perkotaan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
  192. Pamudji. S. 1992. Kepemimpinan Pemerintah di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
  193. Pidarta, Made. 1992. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan Jakarta : Bumi Aksara.
  194. Pidarta, Made. Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta; 1997
  195. Poerbakawatja, Soegarda, H. A. H. Harahap. Enseklopedia Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung, 1981.
  196. Poerwadarminta W.J.S Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka. 1987.
  197. Poewadarminto. 1990. Kamus Umum Bahasa Indonesia.  Jakarta : Balai Pustaka.
  198. Pohan, Rusdin, dkk, 1992. Profil Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an Siswa SMTA di Aceh Thesis. Tidak Diterbitkan Aceh. P3M IAIN Ar-Raniry..
  199. Pohan, Rusdin, dkk, 1992. Profil Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an Siswa SMTA di Aceh Thesis. Tidak Diterbitkan Aceh. P3M IAIN Ar-Raniry..
  200. Prayitno dan Amri. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta. t.th.
  201. Punagi, Andi. 1998. Bingkisan Budaya Sulawesi Selatan. Ujung Pandang : Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan.
  202. Purbawakatja, Soegarda. 1981. Ensiklopedia Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung.
  203. Purbawakatja, Soegarda. 1981. Ensiklopedia Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung.
  204. Purnomo Sigit, 1983. Ekonomi II. Jakarta : Depdikbud
  205. Purwanto N. 1984.Psikologi Pendidikan. Bandung :PT. Remaja Rosdakarya.
  206. Purwanto, Ngalim. 1999. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
  207. Rahayu. A. 1990. Praktek Manajemen Pendidikan SMA Swasta di Jawa Barat dan Pengaruhnya terhadap Hasil Belajar Siswa. Bandung: Lembaga Penelitian IKIP.
  208. Rahima, 1989. Suatu Analisa Terhadap Kemampuan Membaca Al-Qur’an di Kalangan Siswa Menengah Pertama Negeri Amparita Kabupaten Sidenreng Rappang. (Penelitian) Pare-Pare.
  209. Rahima, 1989. Suatu Analisa Terhadap Kemampuan Membaca Al-Qur’an di Kalangan Siswa Menengah Pertama Negeri Amparita Kabupaten Sidenreng Rappang. (Penelitian) Pare-Pare.
  210. Rahman, M.Asfah. 1991. Kualitas Kekaryaan Guru Sekolah Dasar, Studi Kasus Guru SD di Tiga Desa Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa. Makassar :  Pusat  Penelitian  IKIP.
  211. Ratno, 1993. Pengolahan Data Statistik dengan Program Stats Versi 2,6. bandung : UNPAD
  212. Reja Mudyarahardjo, dkk., Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 1994.
  213. Robbins, Stephen P. 1993. Organizational Behavior. Concepts Controvertion, and Applications. New Jersey. Engleword Cliffs. Printice-Hill Inc.
  214. Robbins, Theresia. “Kepemimpinan Pendidikan Abad 21”. Program. Online. (http://www1bpkpenabur.or.id/jurnal/01/086-093.pdf.) Diakses 2 Nopember 2004.
  215. Roestiyah NK, Masalah-Masalah Ilmu Keguruan, PT. Bina Aksara, Cet I, 1986
  216. Rosyada, Dede. 2004. Paradigma Pendidikan Demokratis, Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan . Jakarta: Kencana.
  217. Rosyada, Dede. Paradigma Pendidikan Demokratis, Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan. Jakarta: Kencana. 2004.
  218. Rosyada, Dede. Paradigma Pendidikan Demokratis, Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan . Jakarta: Kencana. 2004.
  219. Sabardi,Agus. 1997. Pengantar Manajemen. Yogyakarta. UPP AMP YKN
  220. Sadeli. J. M. 1996. Kepemimpinan dan Kerjasama Tim. Makalah dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia III. Ujungpandang. : IKIP.
  221. Saleh, Abdul Rahman. 2004. Psikologi Suatu Pengantar dalam Persfektif Islam. Jakarta: Prenada Media
  222. Saleh, Abdul Rahman. 2004. Psikologi Suatu Pengantar dalam Persfektif Islam. Jakarta: Prenada Media
  223. Saleh, Abdurrahman,, Psikologi Pendidikan Suatu Pengantar Dalam Persfektif Islam, Jakarta: Kencana, 2004
  224. Salusu, J. 1996. Pengfambilan Keputusan Stratejik untuk Organisasi Publik dan Organisasi Nonprofit. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
  225. Salusu. J. 1996. Pengambilan Keputusan Stratejik untuk Organisasi Publik dan Organisasi Nonprofit. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
  226. Santoso, Singgih. 2003. Masalah Statistik dengan SPSS Versi 11.5. Jakarta: Elex Computindo
  227. Santoso, Singgih. 2003. Masalah Statistik dengan SPSS Versi 11.5. Jakarta: Elex Computindo
  228. Santoso, Singgih. 2003. Masalah Statistik dengan SPSS Versi 11.5. Jakarta: Elex Computindo
  229. Sardiman, AM. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: CV. Rajawali. 1986.
  230. Sardiman. 1988. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:  CV. Rajawali.
  231. Sardiman. 2000. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:  PT. Raja Grafindo Persada.
  232. Sardiman. 2000. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:  PT. Raja Grafindo Persada.
  233. Sayid Sabiq. Anasirul Quwwah Fil Islami. Alih Bahasa Drs. Haryono dan S. Yusuf dengan judul “Unsur-Unsur Dinamika Dalam Islam”. Cet. I; Jakarta : PT. Intermasa, 1981.
  234. Schein, edgar, H. 1983. Psikologi Organisasi. Jakarta : Pustaka Binaman Pressindo
  235. Shihab, Quraisy. 1999. Membumikan Al-Qur’an Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung, Mizan.
  236. Shihab, Quraisy. 1999. Membumikan Al-Qur’an Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung, Mizan.
  237. Siagian P, Sondang. 1989. Filsafat Administrasi. Jakarta. CV. Masagung.
  238. Siagian P, Sondang. 2001. Kerangka Dasar Ilmu Administrasi. Jakarta. PT. Rineka Cipta.
  239. Siagian, Sondan P 2002b. Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja. Jakarta: Rineka Cipta
  240. Siagian, Sondan P. 1989. Filsafat Administrasi. Jakarta: PT. Toko Gunung Agung.
  241. Siagian, Sondan P. 2001a. Kerangka Dasar Ilmu Administrasi. Jakarta. PT. Rineka Cipta.
  242. Siagian, Sondan P.2004c. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta
  243. Siagian, Sondang P. 1989. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Bina Aksara.
  244. Siagian, Sondang P. 1989. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Bina Aksara.
  245. Siagian. S. P. 1977. Filsafat administrasi. Jakarta: Gunung Agung.
  246. Siagian. S. P.. 1988. Teori dan Praktek Pengambilan Keputusan. Jakarta: CV. Haji Mas Agung.
  247. Siagian. S. P.. 1991. Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta  : Rineka Cipta.
  248. Siahan. Henri N. Peran Ibu-Bapak dalam mendidik Anak. Bandung: Angkasa. 1986.
  249. Siahan. Henri N. Peran Ibu-Bapak dalam mendidik Anak. Bandung: Angkasa. 1986.
  250. Sihombing umberto, 2001. Pendidikan Luar Sekolah Masalah, Tantangan dan Peluang. Jakarta : CV. Wirakarsa.
  251. Sinungan, Muchdarsyah. 2003. Produktivitas, Apa dan Bagaimana. Jakarta: PT. Bumi Aksara
  252. Siswanto, Bedjo. 1990. Manajemen Modern. Bandung : Sinar Baru
  253. Sjihabuddin, Achmad, dan Arselan Harahap (ed). 1998. Pembangunan Administrasi di Indonesia. Jakarta. LP3S.
  254. Slamet, Y. 1989. Konsep-Konsep Dasar Partisipasi Sosial. Yogyakarta: PAU-SS-UGM.
  255. Slameto , 1999. Evaluasi Pendidikan . Jakarta : PT. Bumi Aksara
  256. Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta. Rineka Cipta.
  257. Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta. Rineka Cipta.
  258. Sodomo .M, 1989. Pendidikan Luar Sekolah Kearah Pengembangan Sistem             Belajar Masyarakat : Jakarta P2LPTK.Ditjen Dikti Depdikbud.
  259. Soetopo, Hidayat, 2002, Desentralisasi Manajemen Pendidikan dan Profesionalisme dalam Rangka Otonomi Daerah. Disajikan pada Konfrensi Nasional Manajemen Pendidikan, Jakarta 8-10 Agustus.
  260. Soewartoyo (ed). 2003. Persepsi Masyarakat Terhadap Desentralisasi Pendidikan (Studi Kasus Kota Manado). Jakarta. Pustaka Sinar Harapan dan PPK LIPI.
  261. Soewartoyo (ed). Persepsi Masyarakat Terhadap Desentralisasi Pendidikan (Studi Kasus Kota Manado). Jakarta. Pustaka Sinar Harapan dan PPK LIPI. 2003.
  262. Soewartoyo (ed). Persepsi Masyarakat Terhadap Desentralisasi Pendidikan (Studi Kasus Kota Manado). Jakarta. Pustaka Sinar Harapan dan PPK LIPI. 2003.
  263. Soewondo, Soetinah. 1982. Pengaruh Minat Pada Siaran TVRI Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas II KMUP. Tesis, Tidak Diterbitkan  Jakarta. IKIP..
  264. Soewondo, Soetinah. 1982. Pengaruh Minat Pada Siaran TVRI Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas II KMUP. Tesis, Tidak Diterbitkan  Jakarta. IKIP..
  265. Stoner, James A. F. 1996. Manajemen. Jilid 1. Jakarta: PT. Prenhallindo.
  266. Stoner, James A.F. and Freeman Edward R. 1989. Management. New Jersey: Engleword Cliffs.  Printice-Hill Inc.
  267. Sudarsono,Juwono, 1998. Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Dunia Pendidikan. Jakarta : Warta Berita RRI jam 19.00 WIB, 23 September 1998.
  268. Sudjana, Nana. 2000. Dasar-dasar Proses Belajar-Mengajar (Cet. Kelima). Bandung : PT. Sinar Baru Algensindo.
  269. Sugiyono, 2001. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.
  270. Sugiyono. 1997. Metode Penelitian Administrasi. Bandung :Alfabeta
  271. Sugiyono. 2001. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.
  272. Sugiyono. Metode Penelitian Administrasi. Bandung. CV. Alfabeta. 1999.
  273. Sugiyono. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta. 2001.
  274. Suhartin, Cara Mendidik dalam keluarga Masa Kini. Jakarta: Bharata Karya Aksara. 1984.
  275. Suhartin, Cara Mendidik dalam keluarga Masa Kini. Jakarta: Bharata Karya Aksara. 1984.
  276. Sulaiman, Fatih Hasan. 1984. Mazahib al Tarbiyah Bahtzun Fi al-Mazahabi al-Tarbawiyyi. Inda al-Gazaly. Kairo.
  277. Sulaiman, Fatih Hasan. 1984. Mazahib al Tarbiyah Bahtzun Fi al-Mazahabi al-Tarbawiyyi. Inda al-Gazaly. Kairo.
  278. Surya Moh. Pengantar Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta: Universitas Terbuka. 1994.
  279. Suryabrata, Sumardi. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali.
  280. Suryabrata, Sumardi. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali.
  281. Suryadi, Andi. 1988. Pengantar Manajemen. Bandung: Armico
  282. Suryosubroto, B, Dasar-Dasar Psikologi untuk Pendidikan di Sekolah, Jakarta, Prima Karya, 1988.
  283. Suryosubroto, B, Dasar-Dasar Psikologi untuk Pendidikan di Sekolah, Jakarta, Prima Karya, 1988.
  284. Sutarto. 1991. Dasar-Dasar Kepemimpinan Administrasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  285. Sutaryadi. 1993. Administrasi Pendidikan. Penerbit Usaha Nasional. Surabaya.
  286. Suwardi. E. 1982. Aspek-Aspek Kepemimpinan dalam Manajemen Operasional. Bandung : Alumni.
  287. Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Cet. Keempat). Bandung : PT. Remaja Karya.
  288. Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya. 1999.
  289. Syah, Muhibbin.. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakary, 1999.
  290. Syamsi S.U, Ibnu.  Pokok-Pokok Organisasi dan Manajemen.  Jakarta: Rineka Cipta
  291. Syamsi, Ibnu. 1994. Pokok-pokok Organisasi dan Manajemen. Jakarta: PT. Rineka Cipta
  292. Tafsir, Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam Cet. I; Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 1995
  293. Tafsir, Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam Cet. I; Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 1995
  294. Tafsir, Ahmad. 1992. Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya.
  295. Tafsir, Ahmad. 1992. Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya.
  296. Tasmara. 1993. Ethos Kerja Pribadi Muslim. Jakarta: Jamiatul Ma’rat
  297. Terry, G. R dan L, W, Rue. Dasar-Dasar Manajemen. Terjemahan oleh G.A. Ticoalu. 1996. Jakarta: Bumi Aksara.
  298. Thalib M, Tanggung Jawab Orang Tua terhadap Anakanya, Cet. IV ; Jakarta : Al- Qausar 1992
  299. Thoha, Miftah. 1996 Kinerja Dipengaruhi Oleh Faktor Motivasi. Yogyakarta. BPFE.
  300. Thoha, Miftah. 1996. Perilaku Organisasi. Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
  301. Thoha, Miftah. 2002. Perilaku Organisasi,Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
  302. Thoha. M. 1991. Persepktif Perilaku Birokrasi (Dimensi-dimensi Prima Ilmu Administrasi Negara Jilid II). Jakarta  : PT. Rajawali.
  303. Thoha. M.. 2000. “Landasan Manajemen pendidikan di indonesia.” Program. Online.(http://www.Depdiknas.go.id/inlink.php?/program/jurnal). Diakses 15 November 2004
  304. Tilaar, HAR. 2000, Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
  305. Tilaar, HAR. 2001. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional. Dalam Persfektif abad 21. Magelang: Indonesia Tera.
  306. Tilaar, HAR. 2003. Manajemen Pendidikan Nasional. Bandung: Remaja Rosda Karya.
  307. Tilaar, HAR. Manajemen Pendidikan Nasional. Bandung: Remaja Rosda Karya. 1999.
  308. Tilaar, HAR. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 2000.
  309. Tiro, Muhammad Arif. 2000. Analisis Korelasi dan Regresi. Makassar : Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.
  310. Tjiptono, Fandy. 1997. Prinsip-Prinsip Total Quality Service. Yogyakarta: Andi.
  311. Tjokrowinoto, Moelyarto. 1996. Pembangunan: Dilema dan Tantangan. Yogyakarta  : Pustaka Pelajar.
  312. Tolla, Ismail. 2002. Profesionalisme Guru, Makalah. Disampaikan pada Seminar di Kabupaten Soppeng, 2002.
  313. Totoatmodjo, Soekidjo. 1998. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta : Rineka Cipta.
  314. Trimo, Soejono. 1984. Analisis Kepemimpinan. Bandung: Angkasa
  315. Umar Hasyim, Anak Shaleh (Cara Mendidik Anak Dalam Islam). Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1983.
  316. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. dan Peraturan Pelaksanaannya. Bandung: Citra Umbara.
  317. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. dan Peraturan Pelaksanaannya. Bandung: Citra Umbara.
  318. Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.
  319. Usman Moh. Uzer. 2000. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  320. Vebrianto,ST 1985. Masalah-masalah Pendidikan di Indonesia. Jogyakarta:              Perpustakaan IKIP Jogyakarta.
  321. Wahjosumidjo. 1987. Kepemimpinan  dan Motivasi. Jakarta: Ghalia Indonesia
  322. Wahjosumidjo. 2001. Kepemimpinan Kepala Sekolah; Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. Jakarta: Rajawali Pers
  323. Wahjosumidjo. 2003. Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
  324. Wibawa, Basuki. 2002. Partisipasi Masyarakat Potret Tahun Kedua di Era Otonomi Pendidikan, Disajikan pada Konfrensi Nasional Manajemen Pendidikan, Jakarta 8-10 Agustus.
  325. Winardi. Tanpa Tahun. Pengantar Ilmu Manajemen (Suatu Pendektan Sistem). Bandung: Nova
  326. Winarno Surachmad.  tanpa tahun.  Metode pengajaran Nasional. Bandung :          Jemmars.
  327. Wirawan S., Sarlito. Psikologi Remaja. Cet. V, Jakarta: Rajawali Pers, 2000.
  328. Wirawan S., Sarlito. Psikologi Remaja. Cet. V, Jakarta: Rajawali Pers, 2000.
  329. WJS. Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Cet. V; jakarta: PN. Balai Pustaka, 1983.
  330. Yunus, Mahmud. 1976-1985. Metodik Khusus Bahasa Arab (Bahasa Al-Qur’an). Jakarta: al-Hidayah.
  331. Yunus, Mahmud. 1976-1985. Metodik Khusus Bahasa Arab (Bahasa Al-Qur’an). Jakarta: al-Hidayah.
  332. Yunus, Mahmud. Prof. Kamus Arab Indonesia. Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir Al-Qur’an Jakarta, 1973.
  333. zahera. 1993. Pembinaan Yang Dilakukan Kepala Sekolah dan Etos Kerja Guru Sekolah Dasar. Jurnal Ilmu Pendidikan, Jilid 5, No 2 Mei.Undang-Undang No. 20 Tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional.Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional RI.
  334. Zuhairini, dkk. 1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usaha Offset.

Pengantar Model Pembelajaran

Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;  menegaskan bahwa pendidikan Nasional harus memenuhi standar Nasional Pendidikan yang meliputi : 1) Standar isi, 2) Standar proses, 3) Standar kompetensi lulusan, 4) Standar pendidik dan tenaga kependidikan, 5) Standar sarana dan prasarana, 6) Standar pengelolaan, 7), Standar pembiayaan, 8) Standar penilaian pendidikan.
 Dalam standar proses; dinyatakan bahwa Proses pembelajaran pada tingkat satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberi ruang lingkup yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Secara umum pembelajaran mempunyai dua karakteristik, yaitu : pertama, dalam proses pembelajaran melibatkan proses mental peserta didik secara maksimal, bukan hanya menuntut peserta didik sekedar mendengar, mencatat, akan tetapi menghendaki aktivitas peserta didik dalam proses berpikir. Kedua, dalam pembelajaran membangun suasana dialogika dan proses tanya jawab yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik yang pada gilirannya membantu peserta didik untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri.
Belajar secara umum adalah proses manusia memperoleh berbagai pengetahuan, skill, dan perilaku/attitude dan nilai-nilai yang dimulai sejak bayi sampai dewasa.
Proses pembelajaran di kelas adalah proses yang kompleks, interaktif, dan setingnya dinamis. Teori belajar diharapkan dapat memberi sumbangan untuk memahami seting tersebut.
Menurut Corey (1986-1905) pembelajaran adalah suatu proses di mana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi – kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu.
Pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru. Proses pembelajaran pada awalnya meminta dosen/guru untuk mengetahui kemampuan dasar yang dimiliki oleh peserta didik meliputi kemampuan dasarnya, motivasinya, latar belakang akademiknya, latar belakang sosial ekonominya, dan lain sebagainya. Kesiapan dosen/guru untuk mengenal karaktersitik peserta didik daam pembelajaran merupakan modal utama penyampaian bahan belajar dan menjadi indikator susksesnya pelaksanaan pembelajaran.

Meski aku lalai menjaganya

Senja Berwarna Nila
amarahmu tak punya nilai bagiku
meski menggunung hingga mencakar langit
menancap hingga mencapai perut bumi
tak juga punya nilai apa-apa
meski engkau datang bersama badaidengan petir silih berganti sekalipun
tetap tegap kokoh tak bergeming
siapa yang mampu meruntuhkannya
sementara cinta dan rindu telah engkau reliefkan
meskipun kadang aku lalai menjaganya
dia tetap ada

with Nila di istana Cinta

Esok Hari Saat Bertemu Denganmu

Warna Nila
derap langkah kuda berpacu memecah hening malam
isyarat sama di dalam dada berkecamuk tak tentu
degupnya berirama hingga jantung serasa "bengkak"
tapi masih seperti melantunkan syair indah
meski tak ada suara merdu mendayudayu
lantunan mantra menjadi pengiring malam 
dan bintang bergegas ingin menjemput fajar
hingga bulanpun malu-malu karena takut kepergok mentari

adakah yang melebihi indahnya esok hari
saat luka karena cinta akan terobati
adakah waktu yang singkat saat menunggu
saat dendam kau cipta menjadi rindu

esok hari saat bertemu dengamu "Nila"

Copas yang legal


Copas yang legal atau copy paste, istilah ini muncul bersamaan dengan perkembangan tekhnologi komputer, di mana tedapat kemudahan dalam menduplikasi suatu teks, gambar atau obyek apapun dengan sangat mudah. Duplikasi ini bukan lagi sama tetapi sangat identik sehingga seseorang dapat dengan mudah mengambil, menggunakan dan bahkan melakukan revisi terhadap obyek di copas tersebut untuk kepentingan pribadi. Hal mutlak akan merugikan orang lain secara sepihak dan juga sesungguhnya sangat merugikan pribadi atau orang yang melakukannya

Untuk kepentingan tertentu copas boleh tetapi dengan catatan mencantumkan sumber asli dari yang dicopas itu. Biasanya dalam aturan ilmiah copas itu ada dua macam yaitu copas langsung dan copas tidak langsung. Copas langsung adalah copas dengan tidak merubah teks asli dari sumber baik kata maupun tanda bacanya. Sedangkan copas tidak langsung adalah copas dengan merubah struktur kalimat tetapi tidak mengurangi atau merubah makna sesungguhnya dari kehendak atau ide penulis aslinya. Tetapi kedua model copas itu tetap menjadi hukum wajib untuk mencantumkan nama dan identitas sumber copasnya. Nah inilah yang masuk copas yang dihalalkan.

Copas untuk urusan ini kelihatannya harus menyertakan moralitas dari penulis, jika ingin mencopas tulisan orang lain, karena sangat dekat dengan plagiat. Hukum plagiat sebenarnya tidak perlu dipernincangkan laginkarena jika ditinjau dari aspek moralitas tentu ini menjadi pelanggaran moral tentunya. Karena perlu ada penghargaan dari apa yang menjadi ide seseorang. Meskipun pada tataran tertentu ide tersebut dikembangkan menjadi konsep baru atau teori baru, tetapi tetap harus encantumkan dasardasar teori atau konsep yang mendasarinya.

Sebenarnya untuk penulis profesional, maka aspek yang paling dihindari pastilah copas ilegal. Berbeda dengan penulis pemula yang kadang kehabisan ide sehingga seluruh tulisannya adalah gabungan dari copas yang bersumber dari tempat yang berbeda. Dan kelihatannya penulis di dunia maya harus mengantisipasi copas ilegal ini, karena banyak peluang dan kesempatan yang terbuka lebar untuk melakukannya.

Published with Blogger-droid v2.0.1

Sebesar Apa

Sebesar apa engkau menyakitiku
seperti pedang beracun yang kau hiriskan pada lengan kiriku hingga putus
ah.. belum apa-apa karena aku masih punya lengan sebelah kanan

seperti engkau menderaku hingga lecutmu hancur
lihat... masih ada kuku jari tangan dan kakiku yang tak bengkak dan mengucurkan darah

seperti mencabik-cabik badanku hingga tanganmu melepuh karenanya
jangan salah sangka aku masih punya hati dan rasa

semakin engkau menderaku dengan siksaan
masih ada yang tersisa untukmu

CINTA

Deritakah ini..?

Deritakah ini..?
Deritakah ini..?
deritakah sedang menggelinding dalam benak
seperti aliran air bah yang menghalau semuanya
akar pohon tercabut meski kokoh menancap bumi
seperti tak punya daya dan lalu hanyut begitu saja

arus deras menghantam bebatuan
kokoh tapi retak juga akhirnya
bahkan lumut yang menyelimutinya hingga hangat suatu ketika
juga terkikis habis dan tak tersisa

delapan ratus depa sudah meninggalkan jarak
tak lagi terhingga seperti semut yang hijrah bersama tuannya
tak ada harap akan kembali pada tempatnya semula
lalu putus asa mendera melengkapkan derita

inikah derita yang kau semat utuh 
hingga tak lagi kukenali bintang dan rembulan itu indah
tertutup awan tangisan yang menderu-deru
tumpah ruah begitu saja dan tak terkendali

cinta mana yang kau sebut cinta dulu
mengorbankan seluruh derajatmu pada cinta yang kupunya
lalu begitusaja raib dan hilang
dan engkaupun menjadikan amarah bekalmu pergi

Adalah Cinta menjejak utuh di Bathinmu | Rahasia

Adalah permadani yang selalu empuk
meski memusuhi air kadang-kadang
seperti saja kita yang kemayu
kadang mendudukkan air sebagai musuh
takut rupanya menyergap
saat hakikat diri terkikis
oleh kita dan orang lain
oleh cercaan dan hinaan yang mencabik-cabik
apa yang terjaga di badan
nafsu selalu menang pada jihadjihad kita
dan selalu saja kalah dan kalah
sementara kita terbahak-bahak pada kekalahan

ingatlah seonggok daging yang melekat utuh di rongga dada
disana termaktub semua kebenaran hakiki
yang kadang kita sembunyikan utuh
meski tentang cinta, rindu dan bahkan dendam kesumat sekalipun
adakah lisan masih tak kuasa membacanya
hingga bibir tak juga mengulas senyum
lalu menyebutnya kerasakeras berbentuk lafas
bahwa masih ada cinta yang sakral menjejak 





Arah kebijakan pembangunan pendidikan

Arah kebijakan pembangunan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari filoshopy dari pendidikan tersebut. Dasar philosofis itu dapat dilihat dari  pengertian pendidikan. Menurut GBHN 1999-2004 arah kebijakan pendidikan itu adalah:
  1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia menuju terciptanya manusia Indonesia berkualitas tinggi dengan peningkatan anggaran pendidikan secara berarti.
  2. Meningkatkan kemampuan akademik dan profesional serta meningkatkan jaminan kesejahteraan tenaga kependidikan sehingga tenaga pendidik mampu berfungsi secara optimal terutama dalam peningkatan pendidikan watak dan budi pekerti agar dapat mengembalikan wibawa lembaga dan tenaga kependidikan.
  3. Melakukan pembaharuan sistem pendidikan termasuk pembaharuan kurikulum, berupa diversifikasi kurikulum untuk melayani keberagaman peserta didik, penyusunan kurikulum yang berlaku nasional dan lokal sesuai dengan kepentingan setempat, serta diversifikasi jenis pendidikan secara profesional.
  4. Memberdayakan lembaga pendidikan baik sekolah maupun luar sekolah sebagai pusat pembudayaan nilai, sikap, dan kemampuan, serta meningkatkan partisipasi keluarga dan masyarakat yang didukung oleh sarana dan prasarana memadai.
  5. Melakukan pembaharuan dan pemantapan sistem pendidikan nasional berdasarkan prinsip desentralisasi, otonomi keilmuan dan manajemen.
  6. Meningkatkan kualitas lembaga pendidikan yang diselenggarakan baik oleh masyarakat maupun pemerintah untuk memantapkan sistem pendidikan yang efektif dan efisien dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari hakikat pendidikan yang dapat dipahami dari batasan pengertian pendidikan sebagai usaha sadar yang terencana untuk merubah tingkah laku seseorang.
  7. Mengembangkan kualitas sumber daya manusia sedini mungkin secara terarah, terpadu dan menyeluruh melalui berbagai upaya proaktif dan reaktif oleh seluruh komponen bangsa agar generasi muda dapat berkembang secara optimal disertai dengan hak dukungan dan lindungan sesuai dengan potensinya.
  8. Meningkatkan penguasaan, pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk teknologi bangsa sendiri dalam dunia usaha, terutama usaha kecil, menengah, dan koperasi guna meningkatkan daya saing produk yang berbasis sumber daya lokal.